Untuk yang Terakhir Kalinya

Pertokoan itu agak sepi. Koridor panjangnya terlihat lengang. Toko-toko sudah hampir tutup. Tapi aku tetap melihat-lihat etalase. Barisan notebook dan asesoris komputer masih menyita perhatianku.

Tiba-tiba sebuah suara menegur dan menyebut namaku.

“Fey?”

Aku menoleh dan langsung terkejut. Tak siap dengan pertemuan ini. Tak siap melihat wajah itu lagi.

“Fey? Apa kabar?” wajahnya sumringah. Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

Cepat-cepat aku dapat menguasai diri. Sambil berusaha tenang aku menjabat tangannya dan tersenyum, “Kabar baik. Apa kabar?”

“Baik… baik. Wah nggak nyangka ketemu kamu di sini. Lagi ngapain?”

“Tadi abis beli game baru,” ujarku sambil menepuk-nepuk tasku. “Trus liat-liat gadget. Kamu sendiri ngapain? Bukannya udah pindah? Kok jauh amat sampe sini?”

“Masih suka main game, ya? Masih suka ngiler gak kalo ngeliat gadget?” dia tersenyum. Aku menjawab dengan senyuman menyeringai.

“Aku lagi iseng aja. Tadi sore ada meeting di deket-deket sini. Pulangnya mampir ke sini deh sambil liat-liat gadget baru. Sekalian beli memory card nih, sama HD eksternal.”

Aku tersenyum lagi. Ternyata dia masih hobi komputer dan gadget juga. Sama seperti aku.

“Sama siapa kamu ke sini?”

“Sendiri.”

“Sendiri? Iseng amat. Nggak minta temenin sama temen atau pacar?”

Aku tertawa pelan, “Lagi pengen hunting sendiri aja…”

“Ngomong-ngomong pacar kamu mana?” tanyanya tersenyum menggodaku.

“Nggak ada,” jawabku sambil senyum lebar.

“Bukannya ada? Yang kamu bawa di resepsi pernikahanku?”

“Ooh itu… Udah putus.”

“Loh, kenapa? Kok putus? Aku pikir kamu bakal nyusul aku secepatnya.”

“Yaa… nggak cocok aja…”

“Eh, kita ngobrolnya di tempat lain yuk. Kamu udah makan? Temenin aku makan, mau ya? Sebentar aja…”

“Euh… nggak usah deh. Udah malem. Istri kamu pasti nunggu.”

“Ah, nggak apa-apa. Sebentar aja. Aku udah bilang kok bakal pulang telat. Nanti aku antar kamu sampai rumah. Mau ya?”

“Ummm…” aku ragu namun akhirnya aku tetap ikut dengannya.

Kami menuju ke sebuah restoran di dekat situ dan makan malam bersama. Sudah lama sekali sejak kami terakhir makan malam berdua.

“Geez… udah berapa tahun kita gak ketemu? Kamu tambah cantik aja…”

Aku pura-pura tidak mendengar kalimat terakhirnya. “Terakhir kita ketemu yaa di pernikahan kamu. Itu… setahun lalu ya? Anakmu udah umur berapa?”

Dia tersenyum, “Anakku masih di perut ibunya. Kira-kira bulan depan lahir.”

“Wah… selamat ya…” otomatis aku tersenyum seperti layaknya menerima kabar gembira biasa.

“Makasih,” senyumnya makin lebar. “Aku kangen senyum itu…”

“Ha?”

“Senyum kamu. Barusan kamu senyum itu, lho… trus mata kamu berbinar-binar… Gosh… I miss you, Fey.”

Aku tertawa, “Waduh! Eling woii… eling… ditungguin istri dan calon anak tuh di rumah…”

Dia ikut tertawa.

“Oke, sudah cukup cerita tentangku. Sekarang kamu dong yang cerita…”

“Cerita apa?”

“Apa aja. Aku pengen denger apa aja tentang kamu.”

“Apa ya?”

“Yaa.. terserah. Kegiatan kamu, kerjaan kamu, pacar kamu, kenapa kamu putus, kapan putusnya, trus ada pacar baru lagi apa gimana… Anything.”

“Hmmm…”

“Hmm?”

“Kita putus udah berapa lama sih? Tiga tahunan ya kalo nggak salah? Sejak putus sama kamu, aku udah pacaran dua kali. Dan dua-duanya kandas. Sementara kamu udah menikah dan sebentar lagi punya anak. Ah… aku iri…” aku cengengesan.

Aku tidak merasa sedih. Hanya saja merasa tertohok dengan keadaan itu. Dulu kami pacaran tidak sampai setahun, dan kemudian putus karena kami mempunyai cara pandang yang berbeda. Setelah putus kami jarang berkomunikasi. Tapi sebenarnya kami masih berteman dan sesekali masih saling menghubungi jika ada keperluan. Sekarang hidupnya sudah berubah menjadi lebih baik sementara aku masih begini-begini saja. Tapi aku tidak cemburu. Aku sudah mengikhlaskannya. Aku bahkan hadir di pesta pernikahannya setahun yang lalu tanpa beban sama sekali.

“Jangan khawatir. Nanti juga kamu ketemu sama seseorang yang terbaik buat kamu,” ia menghiburku. Basi, pikirku geli. Tapi toh aku tersenyum juga dan meng-amin-i kalimatnya.

“Kamu tahu nggak, belum lama ini aku mimpiin kamu, loh. Makanya nggak nyangka bisa ketemu lagi. Sempet kaget tadi pas keluar toko ngeliat kamu di situ.”

“Oya? Mimpi apa?”

“Mimpi kita kissing. Just like the old days.”

“Ah. Gila.”

“Ya namanya juga mimpi…”

“Iya. Itu cuma bunga tidur. Atau mungkin secara gak sadar potongan-potongan memori muncul begitu aja tanpa diduga.”

“Uh hu.”

Diam beberapa saat. Kami hanya menikmati hidangan di depan kami. Dia sibuk dengan tenderloin steak kesukaannya. Sementara aku dengan pelan menghabiskan sisa sapi lada hitamku. Perutku sudah merasa kenyang sejak 5 menit yang lalu.

“Fey?”

“Ya?”

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. “May I kiss you?

“HA?!” Aku menjauhkan wajahku darinya.

I want to kiss you. Untuk yang terakhir kalinya. Boleh?” Ia terus mendekatkan wajahnya. Kini aku tak hanya menjauhkan wajahku darinya, tapi juga menggeser tempat dudukku.

You crazy? You’re married now. You have a pregnant wife waiting for you to come home. How could you wanna kiss someone else?

I don’t know. I just want to.”

You’re such an asshole…”

Curse me anything. Just give me one kiss. For the old time’s sake.”

Take me home now,” dengan menahan marah aku meletakkan sendok dan garpuku di atas piring. Siap berdiri.

“Fey…”

“Ga usah, deh. Aku bisa naik taksi sendiri,” aku meraih tasku dan berdiri dari kursi.

“Fey, jangan marah, dong… Maaf…”

“Kamu pikir aku apa?? Mau di-kiss sama mantan yang udah punya istri?”

“Iya, maaf… maaf… Ya sudah… forget it. Aku nggak akan minta itu lagi. Maaf. Ayo aku antar pulang. Jangan naik taksi.”

Sepanjang perjalanan menuju rumahku aku lebih banyak berdiam diri. Segala macam pikiran berkecamuk dalam benakku. Sementara dia berkali-kali minta maaf.

“Aku gak bermaksud apa-apa. Cuma tadi tiba-tiba kepingin aja. Impulsive. Aku tahu aku salah. Harusnya nggak ngomong itu…”

Akhirnya kami tiba di depan rumahku.

“Fey, maafin aku ya? Hidupku gak akan tenang kalau kamu belum maafin aku soal ini. Lupakan aku pernah ngomong gitu ke kamu, ya?” ia menyodorkan tangannya ingin menjabat tanganku.

Aku menoleh ke arahnya. “Dimaafkan. Tapi jangan diulangi lagi, ya? Apalagi sebentar lagi kamu jadi ayah. Nggak baik begitu…” aku menjabat tangannya lagi.

“Makasih,” ia mencium tanganku dengan cepat. Aku tak sempat menariknya. Ah, biarlah kalau hanya tangan.

Thanks ya, udah diantar. Hati-hati pulangnya,” aku turun dari mobil.

“Sampai ketemu lagi?” ia melambaikan tangannya.

Aku tak menjawab. Hanya tersenyum. Dia pun menjalankan mobilnya menjauhi rumahku.

Seandainya kamu belum menikah dan akan punya anak, mungkin aku mau dicium sama kamu… Demi masa lalu…

 

24 jam kemudian.

 

Sebuah SMS masuk, dari Ninda teman lamaku.

“Fey, udah dpt kbr blm? Rio kecelakaan kemarin malam. Mobilnya disalip org. Krn menghindar dia malah nabrak tiang billboard. Msk RS. Lukanya parah. Tadi siang akhirnya meninggal. Kasian istrinya lagi hamil 8 bulan. Ke rumah duka, yuk? Kabar2in ya…”

Seketika aku merasa sebuah gada besar menghantam kepalaku. Membuat kepalaku pusing dan pandanganku berputar-putar. Aku limbung dan jatuh lemas.

Yang dia inginkan adalah menciumku untuk yang terakhir kalinya…

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: