Deja Vu

Titik-titik air mulai berjatuhan dan membentuk bulatan-bulatan kecil di kaca depan. Sebentar kemudian bulatan-bulatan itu semakin banyak memenuhi kaca dengan ritme yang semakin cepat. Dio menekan tombol wipper sambil terus bercerita tentang gadis idamannya.

“Gue harus ngomong ke dia. Kalo nggak, gue bisa gila!” kata Dio gemas setengah berteriak.

“Hmm… gue udah denger tekad lo ini sejak… 3 bulan lalu?” Joe yang duduk di sampingnya berkomentar. “Setiap minggu elo selalu berencana untuk nembak dia. Tapi sampe sekarang elo masih kayak gini. Elo bukannya bisa gila lagi, Yo. Tapi udah gila!”

“Yes, I’m crazy. Crazy for her!”

“Jadi cepatlah nyatakan cinta lo, sebelum elo bener-bener gila dan harus masuk rumah sakit jiwa. Jujur aja, Yo, gak ada cewek yang mau pacaran sama orang gila.”

Dio tertawa. “Wish me luck, Bro. Tonight, I’m gonna tell her!”

“Tell her what?” goda Joe pura-pura baru pertama kali mendengar kalimat itu.

“Tell her that I love her,” Dio tersenyum lebar.

“Gue déjà vu nih… Kayaknya gue pernah denger kalimat itu… Apa elo udah pernah ngomong begitu sebelumnya?” goda Joe lagi. Disusul tawa mereka yang keras. Tentu saja Joe pernah mendengar Dio mengatakan hal itu sebelumnya. Sudah berkali-kali Dio mengatakan akan menyatakan cintanya pada gadis idamannya. Tapi tidak pernah terealisasi.

Joe geleng-geleng kepala. Selain ia sudah sering mendengar cerita tentang Reina, dia juga sudah sering melihat bagaimana Dio yang pintar semasa kuliah dulu itu seketika menjadi manusia paling bodoh jika berada di dekat gadis itu. Dio menjadi gagap dan kehilangan hampir 90% dari kemampuan verbalnya. Jatuh cinta membuat intelejensia Dio merosot drastis.

Adalah Reina, seorang mahasiswi yang bekerja paruh waktu di kantor tempat Dio bekerja, yang membuat Dio menjadi seperti ini. Pertama kali Dio melihat Reina ia merasakan sesuatu yang luar biasa. Waktu seakan berjalan dalam gerakan lambat. Kupu-kupu beterbangan di belakang Reina. Sinar matahari yang menembus jendela kaca menyentuh kulit putihnya membuat Reina terlihat semakin bercahaya. Dio jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Itu bukan love at the first sight. Tapi lust at the first sight,” seloroh Joe waktu pertama kali Dio menceritakan tentang Reina.

Hujan makin lebat di luar sana. Titik air berubah menjadi jarum-jarum air yang seakan menghujam badan mobil disertai suara yang gemuruh.

Lebih dari 5 menit mereka saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Joe yang sedari tadi memangku tangannya dan memandang keluar lewat jendela samping, tiba-tiba merasa pernah melihat pemandangan di luar itu sebelumnya.

“Yo, kayaknya kita pernah ngelewatin jalan ini, deh…“

Dio menoleh ke arah Joe dengan heran, “Lah emang kita sering lewat sini, kan?“

“Bukan. Maksud gue, tadi kita udah lewat sini. Terus sekarang kita lewatin lagi…” Joe menengok ke belakang. Ingin memastikan.

“Ah, masa sih?“ gantian kini Dio yang celingukan. Ia tidak merasa pernah melewati jalan ini beberapa saat sebelumnya.

“Ini kita yang muter-muter atau cuma perasaan gue aja ya?” Joe ragu, memandang sekeliling.

“Perasaan elo aja kaliii. Elo nggak konsen. Hayoo lagi mikirin apa…?? Pasti lagi mikirin mantan.”

“Sok tahu!”

“Oo c’mon Joe… Elo gak bisa bohong sama gue. Elo tuh pembohong yang buruk. Mata lo berkedip kalo elo lagi bohong.”

Joe tertawa, “Gimana kalo gue ngedip karena cacingan?”

“Itu berarti cacingnya yang bohong.”

Mereka tergelak.

“Eh, tapi apa korelasinya antara cacingan dan mata berkedip?” tanya Dio serius. Mungkin pura-pura serius, lebih tepatnya.

“Gak tahu. Nah elo sendiri, apa korelasinya antara mata berkedip dan bohong?” Jo balik bertanya.

“Karena elo menyembunyikan sesuatu dari gue.”

“O, ya? Apa yang gue sembunyiin dari elo?”

“Umm… cacing??”

Mereka tergelak lagi. Sesi curhat telah berubah menjadi percakapan yang random.

“Eh, Yo, beneran deh. Kita ngelewatin lagi jalan yang sama. Jalan yang tadi-tadi juga. Kita muter-muter aja dari tadi. Coba elo perhatiin,” Joe kembali melihat ke sekelilingnya.

Dio memperlambat laju mobil dan ikut memperhatikan sekitarnya. “Oh iya! Damn! Kok bisa sih?! Dua kali ngelewatin jalan yang sama?? Bodoh!” ia menepuk kepalanya.

Joe tertawa ngakak, “See, I told you! It’s you, man! Bukan Dio namanya kalo nyetir nggak nyasar atau kehilangan arah, muter-muter gak karuan.“

Dio ikut tertawa. Menertawakan dirinya. Dia memang punya kebiasaan buruk tidak memperhatikan jalan dan salah jalan.

“Gosh! They shouldn’t let you drive,” Joe geleng-geleng kepala.

“Gue kok nge-blank gini, yah. Hmm… mungkin gak fokus gara-gara mikirin Reina. Hihihi… Oke, sekarang elo jadi navigator aja deh, Joe…”

“Elo salah besar kalo nunjuk gue jadi navigator, Yo. Gue juga suka gak tahu arah. That’s why I don’t drive,” Joe ngakak lagi.

“Yea, rite. Nggak beres, nih. Dua orang disorientasi dalam satu mobil. Yang satu supir disorientasi, satu lagi navigator yang buruk. Apa jadinya kalo dua orang itu mengadakan perjalanan bersama? Disaster! Gak heran dari tadi kita muter-muter aja di sini. Huahaha…” tawa Dio tak kalah keras.

Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dan kilat yang menyilaukan. Sebuah cahaya melintas begitu cepat di depan mereka, menyambar sebuah pohon di pinggir jalan. Terdengar suara kayu yang patah. Dan seketika pohon itu tumbang dan jatuh ke arah jalan raya. Ke arah mobil mereka.

Cepat-cepat Dio membanting setir ke kanan untuk menghindar. Ia memperhitungkan masih ada kesempatan untuk maju dan melewati pohon. Dio menancap gas. Joe berteriak,  “Go! Go! Go!”. Terdengar suara kayu patah dan gesekan daun. Setelah itu terdengar suara berdebam keras.

Pohon itu telah jatuh ke atas aspal yang keras.

Mereka merasa mobil terdorong oleh hempasan angin kencang dari belakang. Dio menginjak rem. Mereka menoleh ke belakang. Pohon itu telah tumbang. Menutupi jalan di belakang mereka dengan batang kayu dan daun lebatnya yang basah.

“Whoa! That was close!“ teriak Joe memutar badannya ke belakang. Ia melongo tak percaya melihat pemandangan dramatis di belakangnya.

Dio membuka kaca jendela di sampingnya. Air hujan langsung menerobos ke dalam mobil dari celah yang terbuka. Dio tidak peduli. Ia terus membukanya dan melongokkan kepalanya ke belakang.

“Astaga! Kita hampir mampus!” teriaknya menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi.

“Gila! Gue takut banget tadi!”

“Elo pikir gue ga takut??”

“Untung jalanan lagi sepi. Coba kalo tadi lagi rame… Kita gak bakal bisa tancap gas kayak gitu tadi.”

Thanks God!” mereka menghempaskan nafas lega. Setelah sebentar menenangkan diri, Dio kembali menyetir. Meneruskan perjalanan.

“Gila! Gue masih deg-degan,” Joe memegang dadanya.

Adrenalin rush! Woohoo!!” Dio melonjak di kursinya. Sebenarnya ia juga masih deg-degan. Jantungnya berpacu cepat. Tangannya bergetar memegang kemudi. Tapi ia jauh merasa ringan. Nyaris tanpa beban. “Wah jadi semangat gini gue. Hmm… sepertinya gue siap ngomong malam ini. Reina, I just want you to know… that I care about you… Bwahahaha…”

Jo geleng-geleng kepala memandang sahabatnya yang sedang bermonolog dan tertawa sendirian itu. Sisi idiot seorang Dio muncul lagi. Entah pertanda bagus atau buruk. Pengalaman nyaris tertimpa pohon tumbang tadi ternyata tidak mengurangi kadar kecanduan Dio terhadap Reina.

“Dasar Reinaholic! Hampir mampus tetep aja mikirin Reina.”

“Reinaholic. Hmm… istilah yang bagus. Gue banget tuh!”

“Gue tahu elo bakal ngomong gitu, Bro. Makanya gue harus daftarin kata itu ke hak cipta. Biar elo gak pake sembarangan.”

“Beuh…”

Hujan masih mengguyur Jakarta. Hujan masih mengguyur atap dan kaca mobil. Hujan yang disertai angin kencang dan petir. Jakarta terlihat muram pada kondisi seperti ini. Jalanan sepi nyaris tidak ada orang atau kendaraan lain yang melintas. Mungkin mereka lebih memilih diam di suatu tempat yang nyaman.

Tiba-tiba Dio memperlambat laju mobilnya. Tercengang ia mendapati mereka sedang melewati jalan yang sama kembali.

“Gak mungkin! Tiga kali melewati jalan yang sama itu bener-bener bodoh! Tapi gue yakin dari tadi kita lurus aja kok!“

Dio dan Joe saling bertukar pandang. Perasaan aneh menjalari mereka. Ketika mereka tiba beberapa meter sebelum tempat tumbangnya pohon tadi, beberapa mobil terlihat mengantri dan memutar balik. Jalanan menjadi macet. Dan banyak kerumunan orang di pinggir jalan.

“Yea, right! Pasti macet lah!” gerutu Dio memukul stirnya.

Mobil mereka ikut mengantri di jalur kiri. Begitu sampai di depan mereka melihat dua-tiga polisi bersama beberapa orang pemuda setempat memblokade jalan dan menyuruh mereka memutar arah. Jelas terlihat beberapa meter di depan mereka sebuah pohon tumbang menghalangi jalan. Sebuah mobil derek terlihat sedang berusaha mengangkat pohon itu. Ada juga mobil ambulan. Dan banyak orang di sekitarnya.

Hujan mulai mereda berganti dengan gerimis. Langit mulai sedikit agak terang daripada sebelumnya. Titik-titik air masih berjatuhan namun ritmenya mulai lambat dan kecil-kecil.

“Kayaknya ada mobil yang ketiban deh, Yo. Itu liat,” suara Joe terdengar agak shock menunjuk ke depan. Sebuah bagian belakang mobil terlihat menyembul di antara dedaunan dan batang pohon.

Dio tidak sempat melihatnya karena ia sudah memutar balik kemudinya. “Ha? Masa sih? Ada yang kena? Pantesan ada ambulan…”

“Mau liat gak? Berhubung tadi kita yang nyaris kena…”

“Oke. Gue cari parkir dulu. Gue juga pengen liat.”

Setelah meminggirkan mobil agak jauh dari situ, mereka keluar dan berjalan ke lokasi pohon tumbang. Gerimis masih turun tapi mereka tidak peduli. Mereka berdiri di aspal basah, di antara orang-orang yang berkerumun di situ menyaksikan mobil derek menyingkirkan pohon yang tumbang. Beberapa bagian dari batang pohon dan rantingnya sudah dipotong-potong untuk memudahkan proses pemindahan.

Yang mengerikan adalah, sebuah mobil terlihat ringsek di bawah batang pohon yang besar itu dan di antara dedaunan lebatnya. Beberapa orang melihat lebih dekat dengan mobil untuk memastikan apakah ada orang di dalamnya yang terluka. Dan sepertinya memang ada korban.

Beberapa saat kemudian pohon berhasil disingkirkan. Kini mobil itu terlihat lebih jelas. Sebuah mobil sedan berwarna hitam. Bagian atasnya ringsek. Semua kaca jendela pecah. Dio dan Joe melongo memandang mobil yang nyaris terbelah itu. Beberapa orang beserta petugas langsung menghampiri mobil.

“ADA YANG MATI!” sebuah suara berseru diikuti dengan teriakan lainnya. Berisik. Chaos. Hectic.

Mereka melihat dua orang lelaki muda dikeluarkan dari dalam mobil dalam keadaan terluka parah. Kepala mereka seakan pecah. Tidak mungkin masih hidup dalam keadaan seperti itu. Darah membanjiri pakaian yang mereka kenakan.

Dio dan Joe shock melihat dua orang korban itu. Meskipun wajah mereka nyaris hancur dan bersimbah darah, mereka bisa langsung mengenali korban dari pakaiannya.

“Ini gila! Ayo kita pergi dari sini!” Dio menarik Joe. Mereka berlari menuju tempat mobil mereka diparkir.

“Mobil lo mana, bro?”

Mereka tidak dapat menemukan mobil Dio. Padahal jelas-jelas tadi mereka parkir di tempat itu.

“Sialan! Ada yang nyolong!” Dio berteriak geram. Dengan gusar ia kembali ke tempat keramaian untuk melapor ke polisi. Namun Joe menahannya.

“Bentar, Yo. Liat sini dulu. Perasaan tadi kan elo parkirnya agak minggir dan ban sebelah kiri lo kena tanah kan? Tanah ini becek. Seharusnya ada bekas ban mobil lo. Tapi liat… tanah ini sama sekali gak ada jejak ban mobil!”

“Jadi maksud lo, ini bukan tempat kita parkir mobil? Tapi gue inget banget gue parkir di deket reklame ini, kok,” Dio menunjuk sebuah papan reklame di pinggir jalan, di dekat mereka.

“Iya gue tahu. Tapi aneh, sekarang mobil lo gak ada. Jejak mobil lo juga gak ada…”

Suasana tegang menyelimuti mereka yang kebingungan mondar-mandir mencari mobil Dio. Sampai akhirnya mereka berjalan kembali ke arah terjadinya kecelakaan karena pohon tumbang itu. Orang masih ramai di sekitarnya. Polisi berusaha menertibkan orang-orang itu ke pinggir jalan supaya lalulintas bisa kembali normal. Dua korban meninggal sudah dievakuasi dan dibawa ambulan. Mobil yang ringsek itu siap diderek.

Dio terpaku melihat mobil yang ringsek itu. Joe yang menyusul Dio di belakangnya tak kalah terkejut.

“Itu kan…”

Mereka saling menoleh. Menggeleng kepala mereka.

No way…”

 

Di sisi jalan itu ada sebuah wartel dengan jendela kaca yang besar dengan tempelan tulisan nama wartel itu. Kaca itu memantulkan bayangan orang yang lalu lalang di depannya. Memantulkan semua kejadian tragis yang baru saja terjadi; sebuah pohon tumbang dan menimpa sebuah mobil yang sedang melaju, menewaskan dua orang penumpangnya. Memantulkan bayangan kepanikan dan keramaian di jalan itu setelah kecelakaan itu terjadi. Tapi kaca itu tidak memantulkan bayangan dua orang lelaki di depannya yang tengah kebingungan.

 

 

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: