Sang Pendosa

Malioboro

Mereka menelusuri jalan Malioboro yang sesak bergandengan tangan sambil melihat-lihat barang dagangan yang digelar di pinggir jalan. Mulai dari baju batik, kaus, sandal anyaman, sarung bantal, sampai pernak pernik yang menampilkan kekhasan kota Jogja. Semua orang berbaur di sepanjang jalan sempit itu, berjalan perlahan bagai arus lalu lintas manusia yang padat merayap. Membuat langkah mereka tersendat atau bahkan kadang terhenti untuk beberapa saat.

Tiba-tiba mata Fira menangkap satu sosok yang timbul tenggelam di antara keramaian orang banyak. Sosok yang sudah setahun tidak pernah ia lihat lagi. Dan tiba-tiba orang itu muncul di sini.

Ario!

Sedang apa dia di Jogja?

Ario berjalan pelan namun mantap, dengan jaket capuchon hitam dan tas ransel di bahunya. Walau kadang terhalang oleh kepala banyak orang di sekelilingnya, namun tinggi badannya membuatnya tetap terlihat menonjol. Fira bergetar dan bulu kuduknya meremang. Ia seperti melihat hantu.

Jantung Fira berdetak tak karuan. Ia terus berjalan di samping Bayu sambil mencuri pandang ke arah sosok Ario yang semakin mendekat. Sampai ketika mata mereka bertemu, sekilas Fira melihat keterkejutan yang sama di wajah Ario. Dia pasti nggak menyangka akan bertemu aku di sini, sama seperti aku, pikir Fira.

Mereka semakin mendekat dan akhirnya berhadapan. Namun mereka masing-masing sengaja memalingkan muka dengan kikuk.

Ketika bahu mereka bersenggolan, Fira merasa bagai terjebak dalam adegan slow motion. Ia merasa jiwanya terlepas dari raga. Seakan sesuatu di dalam tubuhnya terpancang di sana bersama Ario. Sementara  pada saat yang bersamaan raganya tetap berjalan bersama Bayu.

Tiga detik kemudian suasana berubah menjadi normal kembali. Fira kembali ke tubuhnya, kembali berada di samping Bayu yang sedari tadi menggenggam tangannya. Ia menoleh ke belakang. Punggung Ario menghilang di antara keramaian. Ia pun melirik Bayu. Tampaknya lelaki itu tidak menyadari kalau barusan ia mengandeng seseorang tanpa jiwa. Jiwa itu tertinggal di belakang sana…

Sisa sore yang teduh itu tak bisa ia nikmati kembali. Tubuhnya menggigil dan langkahnya limbung. Mungkin karena tadi sempat ditinggalkan oleh jiwanya sendiri. Ia mengajak Bayu kembali ke hotel. Hilang sudah hasratnya untuk berbelanja. Ia ingin istirahat.

Di dalam kamar mereka, Fira berusaha memejamkan mata, berusaha menguap bersama pengharum ruangan dan kesejukan yang diciptakan di kamar hotel ini. Tapi film slow motion di otaknya terus berputar dan berputar, memperlihatkan sosok Ario dengan wajah dinginnya yang terlihat terkejut ketika melihat Fira. Kemudian jiwanya yang dengan sengaja berhenti di tempat, meninggalkan tubuhnya, dan jatuh berlutut. Ia mencelos bagai selongsong kosong sewaktu melihat jiwa Ario pun meninggalkan tubuhnya untuk menghampiri jiwanya. Dan kedua jiwa itu berpelukan, di antara orang-orang yang lalu lalang menembus ketransparanan tubuh mereka. Ia bisa melihat dengan jelas semua adegan itu. Dan ketika jiwanya harus kembali ke tubuhnya, Fira berkeringat dingin dan lemas.

“Kamu sakit, sayang?” tanya Bayu lembut, memijit kepala Fira.

“Pusing…”

“Aku bikin sembuh, ya?” Bayu mulai membuka kancing kemeja Fira.

“Aku pusing, Bay…” Fira berusaha menolak dengan halus. Tapi Bayu malah menempelkan jarinya ke bibir Fira, mengisyaratkan agar Fira diam. Bayu pun mulai memberi sentuhan-sentuhan di berbagai tempat.

Fira hanya berbaring diam, tak banyak memberi respon balik atas perlakuan Bayu. Sepertinya Bayu tak keberatan dengan sikap pasif Fira. Tampaknya Bayu sedang menikmati perannya sebagai penjajah mutlak atas tubuh istrinya itu.

Let me serve you, my love…”

Fira membuka mata dan memandang Bayu. Tapi yang ia lihat adalah wajah Ario. Fira mulai bergerak, memeluk erat tubuh yang bergerak naik turun di atasnya, seakan tak mau melepaskannya. Bayu memeluknya lebih erat lagi dan membisikkan kata cinta. Namun bukan suara Bayu yang terdengar, melainkan suara Ario. Otot-otot yang mengejang itu juga bukan kepunyaan Bayu, tapi kepunyaan Ario.

Fira merasa sudah tidak waras lagi. Bercinta dengan suaminya tapi membayangkan lelaki lain dari masa lalunya. Ia menjerit dalam hati, Ya Tuhan, terkutuklah aku!

Jakarta. Dua minggu kemudian

Fira menelusuri rak-rak buku bagian novel. Tak jelas apa buku yang ia cari, ia hanya melihat-lihat judul buku sambil terus berjalan pelan. Sesekali ia mencabut sebuah buku, memperhatikan sampul depan dan belakangnya, kemudian meletakkannya ke tempat semula. Lalu ia kembali menelusuri rak buku.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Seperti mendapat serangan jantung ringan, ia merasa jantungnya behenti sesaat. Ia melihat sosok itu lagi.

Ario!

Jantungnya yang tadi berhenti kini berdetak dengan kecepatan tinggi. Pikirannya langsung kacau dan ia berkeringat dingin.

Masih segar di ingatannya kejadian 2 minggu yang lalu. Ketika ia berlibur bersama suaminya ke  Jogja, dan melihat Ario di jalan Malioboro. Dan kini, 2 minggu setelah pertemuan tak terduga itu, mereka bertemu lagi. Di sini, di Jakarta. Pertanda apakah ini??

“Eh… Fira?” tiba-tiba Ario sudah berada tepat di depannya dan menyapanya.

“Ario? Apa kabar?” Fira menyembunyikan keterkejutannya dengan menggunakan sisa energi yang ada.

“Baik. Kamu?”

“Yah, beginilah,” Fira tersenyum, menyembunyikan ludah yang mencekat tenggorokannya. Aku hampir mati kena serangan jantung karena melihatmu lagi, Ario. Dua kali dalam dua minggu! Tapi Aku begitu gembira melihatmu lagi. Saking gembiranya jantungku hampir saja melompat meninggalkan rongga dadaku.

“Kamu gak kerja?” tanya Fira dan Ario berbarengan. Mereka tertawa.

“Aku freelance, ingat? Aku gak bisa terikat sama jam kerja,” Ario tersenyum. Kaku. “Kamu?”

“Bolos. Bosan sama rutinitas,” Fira cengengesan.

“Dasar… Kamu kebiasaan,” Ario tersenyum. Kali ini lebih rileks. Senyum yang sudah lama tidak Fira lihat. Senyum pertamanya sejak terakhir Fira melihat wajahnya membeku seperti es, setahun lalu ketika Fira mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Bahkan ketika Fira mencium bibirnya waktu itu, ia dapat merasakan hawa dingin yang membekukan keluar dari bibir Ario yang ditutup rapat. Dan Fira menggigil karenanya.

Sekarang Ario tersenyum. Es itu sedikit mencair. Betapa Fira sangat merindukan senyuman itu. Ada udara hangat yang menjalar melalui senyumannya yang singkat. Fira tak berkutik.

Untuk sejenak mereka tak berbicara sama sekali. Hanya mata mereka yang menatap tajam satu sama lain. Seakan berbicara: aku masih mencintaimu!

Kalau kamu masih mencintaiku, kenapa kamu pergi?

Fira menatap mata Ario lebih tajam dari sebelumnya, meminta penjelasan kenapa tiba-tiba ia bisa mendengar suara Ario di kepalanya padahal Ario tidak berkata apa-apa. Ia bahkan tidak membuka mulutnya. Benarkah itu yang ada di pikiran Ario atau Fira berhalusinasi dapat membaca pikiran Ario? Apakah Fira dihantui rasa bersalah sebegitu besar yang membuatnya seakan bisa mendengar jeritan hati lelaki di depannya itu?

“Maafkan aku, Io…”

“Aku udah maafkan kamu sejak dulu.”

“Izinkan aku berbuat sesuatu untuk menebus kesalahanku.”

“Apa?”

“Nggak tahu. Mungkin aku bisa mentraktirmu makan siang atau minum kopi? Sebagai teman lama? Gimana?” entah mengapa Fira punya ide seperti itu. Suasana mengalir begitu saja.

“Teman lama?”

Fira kembali merasa tidak enak mendengar nada bicara Ario. Seakan ia mengejeknya dan meneruskan kalimatnya dengan ucapan yang tak kalah sadisnya: Jadi kepergianmu hanya bisa ditebus dengan mentraktirku makan siang atau minum kopi, begitu?

“Umm… itu kalau kamu ada waktu…” Fira tergagap.

“Ada. Aku ada waktu. Ayo,” Ario mantap.

Starbucks

“Jadi kamu pacaran sama Bayu cuma sebulan setelah kita putus? Pacaran 8 bulan. Trus langsung nikah? Hebat…” Ario bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. Menyeringai, tepatnya.

“Jangan ngeledek,” Fira merasa ada nada sinis di antara senyum Ario.

“Nggak. Aku nggak ngeledek. Aku turut senang buat kamu. Berapa bulan usia pernikahanmu sekarang?”

“Really? Thanks.” Fira kikuk. Diseruputnya capuccino yang masih panas. “Empat bulan,” tambahnya.

Geez, udah 4 bulan, ya? Berarti waktu kita ketemu di Jogja itu, kamu lagi bulan madu? Hmm kalo kamu masih sama aku, kamu pasti belum nikah.”

“Ah. Jangan ngomong gitu. Bukan bulan madu, hanya berlibur aja kok. Tapi yah bisa dibilang bulan madu juga sih. Kamu sendiri lagi ada urusan apa di Joga?”

“Nggak ada apa-apa. Cuma main aja. Bosan di Jakarta…”

“Ngomong-ngomong, siapa pacar kamu sekarang?”

“Aku lagi nggak ada pacar. For God’s sake, kita udah setahun putus tapi aku belum bisa ngelupain kamu. Apalagi waktu kita ketemu di Joga dua minggu lalu. Aku kaget setengah mati ngeliat kamu…”

“Masa sih? Cowok kayak kamu sepertinya gak mungkin gak punya pacar. Pasti banyak cewek yang ngantri jadi pacar kamu,” Fira pura-pura tidak mendengar kalimat Ario yang lain.

“Buat apa punya pacar kalo akhirnya nanti ditinggal kawin? Lagipula siapa yang mau sama aku? Kuliah nggak beres. Kerja nggak bener…”

Fira diam. Perasaan tidak enak semakin menusuknya. Ia memainkan cangkir kopinya untuk menyembunyikan kegugupan.

“Bercanda, Fira. Aku cuma bercanda. Maaf…” Ario tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Fira.

“Kamu bikin aku merasa bersalah. Padahal tanpa kamu bikin begitu pun aku udah merasa bersalah.”

“Kamu tahu aku masih mencintaimu…”

“…”

“Kenapa kamu putusin aku dulu?”

“Ario, kita udah pernah bicara soal ini. Aku gak mau bahas lagi,” Fira menghela nafas berat.

Setahun yang lalu ketika Fira mengajak Ario untuk bicara serius, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa meneruskan hubungan mereka lagi karena perbedaan keyakinan. Orang tua Fira ingin anaknya menikah dengan lelaki yang seiman. Sebenarnya Fira juga memiliki keinginan yang sama, tapi ia sudah terlanjur mencintai Ario, lelaki yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun. Pada awalnya Fira ingin mempertahankan hubungannya dengan Ario. Namun lama kelamaan ia menyerah dengan keadaan. Ia tidak bisa terus menerus menentang orang tuanya. Ia lelah berdebat. Lagipula ia harus mulai memikirkan masa depannya. Dan ketika ia dikenalkan dengan Bayu, anak dari salah satu kolega ayahnya, ia tidak menolak. Ketika mereka telah saling mengenal, Fira merasa Bayu cukup menyenangkan sehingga ia merasa senang dan nyaman bersamanya. Dan ketika Bayu melamarnya, ia tidak berpikir terlalu lama untuk menerima lamaran Bayu.

“Kamu tahu, aku hampir gila waktu mendengar kamu akan menikah. Ketika kamu SMS bilang akan menikah, aku melempar HP-ku ke layar TV sampai pecah. HP dan TV-ku rusak. Tapi kerusakannya gak separah hatiku yang hancur,” Ario bertutur pelan.

Fira tidak berkata apa-apa. Hanya air mata yang menetes tanpa suara.

 

Kamar Hotel

“Kenapa, Fir? Kamu menyesal?” tanya Ario bingung melihat Fira tiba-tiba menangis dalam pelukannya.

“Aku nggak tahu, Io. Aku nggak tahu ngerasain apa. Otakku sedang kacau. Antara bahagia dan sesak di dada. Kalaupun ini adalah perasaan menyesal, mungkin aku menyesal karena kamu dan Bayu bukan satu orang yang sama,” Fira mengusap air matanya. Berusaha tersenyum.

“Kamu mencintai suamimu? Apakah kamu bahagia bersama dia?”

“Ummm… Yaa… begitulah.”

“Lalu kenapa kamu mau melakukan ini denganku?”

“Karena aku juga masih cinta sama kamu.”

“Jadi kamu mau memiliki kami berdua, begitu? Kamu egois!” goda Ario memencet hidung Fira dengan gemas. Fira tertawa pelan. Bersamaan dengan air matanya yang terus keluar.

“Kalo kamu masih cinta sama aku, kenapa kamu putusin aku, Fir? Kenapa secepat itu kamu dapat penggantiku? Apa kamu udah dekat sama Bayu waktu masih sama aku?“

“Io, aku mohon jangan dibahas lagi…” Fira lirih. Ia mengecup kening Ario dan bangun dari tempat tidur. “Aku harus pergi. Sebentar lagi Bayu pulang kerja. Aku harus udah ada di rumah ketika dia pulang”.

“Hebat!! Perempuan hebat! Bisa mencintai dua lelaki sekaligus dan bisa membagi waktu…” Ario sinis.

Fira terdiam. Air matanya tambah deras. Ia lari ke toilet.

“Maaf…” Ario mengikuti Fira dan memeluknya dari belakang. Mereka memandang ke arah cermin yang besar di toilet dan melihat pantulan dua manusia yang hanya terbungkus selimut.

“Maafkan kesinisanku, Sayang,” Ario melingkarkan tangannya di pinggang Fira dan mencium lehernya. Fira tidak bergeming.

“Kapan kita bisa melakukan ini lagi?”

Fira terdiam sesaat.

“Mungkin kita gak usah ketemu lagi, Io… Cukup sekali ini aja kita begini.”

“Kamu putusin aku lagi?”

“Lagi? Bukannya kita memang udah lama putus?”

“Tapi barusan adalah hal yang sangat luar biasa, Fira. Dahsyat! Akuilah kalau kamu juga menikmatinya. Kamu nggak mungkin begitu kalo kamu nggak mencintaiku.”

I do still love you, Io…”

But?

I’m somebody’s wife now…

Ario melepaskan pelukannya dengan gusar. “Thanks to remind me!” teriaknya sambil meninju dinding.

Fira memeluk Ario dari belakang. “Maafkan aku, Io…”

Ario diam. Rahangnya terkatup rapat.

“Pergilah,” Fira berbisik di telinga Ario. “Pergi dan anggaplah kamu yang meninggalkan aku. Aku mencintaimu tapi kamu meninggalkan aku.” Air mata Fira mengalir.

Ario menggeleng. “Kamu pikir kamu bisa berbuat seenaknya lagi? Datang dan pergi begitu saja?” Matanya kini menyala. “Aku nggak mau kehilangan kamu lagi untuk yang ke-dua kalinya!”

Fira menubruk tubuh Ario dan menangis di dadanya.

Sebelas bulan kemudian

Ucapan selamat datang silih berganti kepada mereka. Karangan bunga dan bingkisan hadiah pun mengalir. Orang tua Fira dan Bayu terlihat amat senang karena mendapatkan cucu. Tak henti-hentinya mereka memandangi bayi mungil itu sambil tersenyum. Sesekali mereka juga ingin menggendongnya secara bergantian. Seketika Fira melupakan penderitaannya selama beberapa jam sebelum persalinan dan segala rasa sakit yang ia rasakan selama 9 bulan belakangan membawa si bayi dalam perutnya. Kehadiran bayi itu telah mengobati semua rasa sakit yang pernah ia alami.

“Menurutmu lebih baik kita namakan dia Ari atau Rio?” tanya Bayu suatu malam ketika mereka hanya tinggal berdua di kamar rumah sakit.

Sejenak Fira merasakan darahnya mendesir.

“Gimana, Sayang? Ari atau Rio? Atau kita namakan Ario aja?”

Ari atau Rio? Ario? Kenapa harus nama itu?

Kini tak hanya darah Fira yang mendesir, namun jantungnya juga berdetak tidak karuan. Ia mendekap bayinya lebih erat untuk meredam degub jantungnya yang semakin kencang. Diciumnya si bayi untuk merasakan wangi yang menenangkan pikirannya.

“Kenapa kamu mau namakan dia dengan nama itu?” tanya Fira menyembunyikan getar suaranya. Namun tidak berhasil. Malah serak yang terdengar.

“Suka aja,” jawab Bayu singkat. “Kamu suka, nggak?”

“Hmmm…,” Fira berpikir. “Bukankah kita pernah mencari nama buatnya? Kenapa berubah?”

“Tiba-tiba aku kepingin nama itu.”

Fira tersenyum. Getir. Ia tidak ingin anaknya diberi nama Ario. Jika iya, dia akan menderita seumur hidup. Anaknya akan selalu mengingatkan dirinya pada Ario, mantan kekasihnya yang telah meninggal 3 bulan lalu. Tapi tidak mungkin ia mengatakan ini kepada suaminya.

“Kamu keberatan dengan nama itu?”

Fira kembali menghela nafas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kalau bisa ia ingin anaknya diberi nama lain.

“Kenapa?” Bayu menghampiri Fira dengan lembut.

Fira tersenyum ke arah Bayu, “Nggak apa-apa, Sayang. Aku hanya masih speechless. Masih terpesona sama dia,” mata Fira kembali ke arah bayi mungil yang sedang tidur pulas di pangkuannya. Berusaha menutupi kebohongannya dan mengalihkan pembicaraan.

Terdengar Bayu menghela nafas berat. “Sayang, aku mau mengakui sesuatu…”

Tiba-tiba bulu kuduk Fira meremang. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada diri Bayu. Seketika ia merasa tidak enak. Jantungnya kembali berdebar kencang.

“Aku ingin mengaku dosa…”

Perasaan tegang menjalar di sekujur tubuh Fira. Apa yang ingin diakui oleh Bayu?

Bayu berbisik di telinga Fira, “Sayang… sebenarnya aku… mandul.”

Tiba-tiba Fira merasa bagai tersambar petir. Seluruh organ tubuhnya bereaksi secara bersamaan. Mungkin sebentar lagi ia akan meledak.

“Sewaktu kita akan menikah, kita kan ke dokter dan menjalankan tes kesuburan. Kamu percaya saja kalau hasil tesku tidak bermasalah. Kamu nggak pernah tanya mana hasil tesku. Maafkan aku telah berbohong, Sayang. Sekarang aku mau mengakui sekarang bahwa aku ternyata infertile…”

“Mungkin hasil tes itu salah? Atau hormon kamu berubah? Bisa jadi kan?” Fira gugup. Suara dan tubuhnya bergetar.

“Ya, aku juga memikirkan hal itu. Mungkin saja, itu bisa terjadi. Tapi ketika tahu kamu hamil, aku kembali ke dokter, minta dites lagi. Dan tes lagi ketika kehamilanmu berusia 7 bulan. Hasilnya tetap sama. Tiga kali tes dan hasilnya tetap sama. Aku tidak mungkin punya keturunan…”

Fira ingin sekali lenyap ditelan bumi.

“Nah, aku sudah mengakui rahasia terpendamku. Sekarang, apa kamu ingin mengakui sesuatu?” suara Bayu tajam dan dingin bagai pisau baja yang menusuk ke ulu hatinya.

Hanya air mata yang keluar dari mata Fira. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

“Baiklah kalau kamu tidak mau mengaku. Sekarang aku ingin mengaku satu hal lagi…”

Fira menunduk memandangi wajah bayi di pelukannya. Bayi itu masih tertidur pulas. Tidak menyadari ada badai yang sedang bergolak di hati ayah dan ibunya.

“Tiga bulan yang lalu, aku menyewa seorang pembunuh bayaran dan menyuruhnya untuk membunuh seseorang. Apapun caranya. Lebih baik jika terlihat seperti kecelakaan.”

“…”

“Kamu tahu siapa orang yang aku mau bunuh itu?”

Fira menggeleng. Bukan karena tidak tahu tapi karena ia tidak ingin mendengarnya.

“Seorang lelaki muda yang aku tidak kenal sama sekali. Yah tapi kemudian setelah aku menyelidikinya, aku jadi tahu namanya. Kamu tahu kenapa aku ingin sekali membunuhnya?”

Fira semakin menggeleng keras.

“Dia tidur dengan istriku. Mereka berselingkuh selama berbulan-bulan. Mereka pikir aku nggak tahu, padahal aku selalu mengamati mereka. Sebenarnya masalah ini dilematis buatku. Aku tidak bisa memberikan anak buat istriku karena aku divonis mandul. Sampai-sampai aku nggak tega mengaku padanya. Tapi ketika aku tahu istriku hamil, aku merasa sangat kecewa sekaligus senang. Kecewa karena ternyata istriku berselingkuh. Senang karena orang lain akan mengira aku adalah lelaki yang sempurna.”

Air mata Fira mengalir deras. Ia benar-benar lumpuh di hadapan Bayu. Mati kutu.

“Aku memutuskan untuk membiarkan mereka berselingkuh karena waktu itu aku pikir aku nggak mau kehidupanku hancur gara-gara bangsat kecil itu. Aku nggak mau pernikahanku bubar dan orang menganggapku menyedihkan karena nggak bisa membahagiakan istri. Aku nggak mau dikasihani orang lain karena istriku selingkuh. Aku membiarkan mereka berbuat itu meski hatiku berkeping-keping setiap kali aku bercinta dengan istriku dan membayangkan ada seseorang yang juga bercinta dengannya di waktu yang berbeda. Beberapa kali aku mengikuti mereka ke hotel, datang sendiri-sendiri tapi dalam jangka waktu berdekatan, dan keluar dari hotel sendiri-sendiri dengan muka yang sumringah. Aku bisa bunuh diri saat itu juga.”

Bayi di pangkuan Fira menggeliat pelan. Menguap lebar lalu kembali tidur dengan tenang. Tidak terganggu dengan suara Bayu yang pelan namun bernada sinis di telinga Fira. Sementara tetesan air mata Fira mulai jatuh di selimutnya. Membentuk bulatan-bulatan kecil dan terserap oleh kain lembut itu.

“Susah payah aku menutupi perbuatan mereka karena aku nggak mau orang-orang menganggap pernikahanku gagal. Suatu hari seorang kolega meneleponku dan bilang bahwa dia melihat mereka di sebuah hotel. Aku menutupi perbuatan bejad itu dengan berbohong padanya kalau istriku sedang bersamaku. Mungkin yang ia lihat hanya orang yang mirip dengan istriku. Demi Tuhan waktu itu dia sedang hamil muda… dan dia masih menemui lelaki itu,” kini Bayu juga menangis.

“Sejak itu aku sangat ingin membunuh lelaki itu. Aku harus menghentikan mereka. Jangan sampai ada yang tahu bahwa istriku berselingkuh dengannya dan menjadi hamil karena dia! Tapi aku nggak mau membunuh istriku karena aku begitu mencintainya dan nggak mau kehilangan dia. Dan aku juga nggak mau kehilangan bayi yang sedang dikandungnya. Jadi lebih baik lelaki itu saja yang mati…”

“Kamu sakit jiwa, Bay… Kenapa kamu nggak bunuh aja kami berdua?!” Fira berkata lirih.

“Dan membunuh anak yang ada di dalam kandunganmu juga? No way, itu anakku… Aku nggak mau bunuh anakku.”

“Ini bukan anakmu. Ini anak Ario.”

“Aku tahu. Tapi orang lain tahunya itu adalah anakku. Yang mengandung adalah istriku yang sah. Aku nggak mau melihat kalian bersama lagi. Pembunuh bayaran itu sangat pintar melakukan pekerjaannya,” Bayu tertawa pelan. “Kamu pikir siapa yang menabrak motornya dari belakang sampai dia terlempar jauh dan kepalanya hancur?”

Fira semakin terpuruk. Dia ingat berita di koran tentang sebuah kecelakaan motor yang merenggut nyawa pengendaranya. Betapa ia ingin pingsan waktu itu begitu mengetahui nama korban.

“Jadi, aku udah mengakui semuanya, Sayang. Aku harap setelah ini kamu bersikap lebih bijak lagi. Aku nggak mau orang lain tahu tentang hal ini. Aku ingin orang lain melihat kita sebagai keluarga yang bahagia. Karena jika kamu bocorkan ini, rahasia perselingkuhanmu akan aku beberkan dan aku akan menceraikan kamu. Tapi anak ini milikku, dia akan tinggal bersamaku. Sementara kamu akan mati pelan-pelan karena kehilangan semua yang pernah kamu miliki. Kamu nggak mau semua itu terjadi, kan?”

Fira terdiam. Tangisnya mengalir.

“Aku memberi namanya Ario sebagai tanda penghormatan pada almarhum mantan kamu itu. Biar bagaimana pun, dia berjasa membuat keluarga ini terlihat sempurna. Inilah rasa terima kasihku padanya. Kuberi nama yang sama dengannya dan akan kurawat anak ini seperti anakku sendiri. Aku janji,” Bayu mengecup mencium pipi bayinya dengan penuh kasih sayang. “Kamu istirahat lah, Sayang. Biar aku yang gendong Ario kecil,” ujarnya sambil mengambil alih si bayi dari tangan Fira. Gerakannya begitu pelan dan lembut. Jelas terlihat betapa sayangnya Bayu pada si kecil.

Bayu menimang-nimang bayi itu sambil terus menciuminya. Fira memperhatikan mereka dengan berurai air mata.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: