Tanda Mata

 

 

“Choki, jangan pergi…” pinta Erin lirih sambil memegang tangan Choki di depannya. Ia tahu Choki akan menjawab tidak bisa, tapi ia harus mencobanya. Ia harus bisa menahan Choki agar tidak pergi.

“Kenapa kamu tiba-tiba nggak ngebolehin aku pergi?”

Erin diam sebentar. Choki menatapnya dengan tidak sabar.

“Aku… Tiba-tiba aku ngerasa nggak enak, Chok…” jawab Erin pelan.

“Nggak enak? Nggak enak gimana?”

“Yaa… nggak enak aja. Seperti firasat buruk….”

Choki tersenyum, “Itu cuma perasaan kamu aja. Rasa khawatir itu wajar, kok… Makasih yaa udah khawatirin aku,” Choki mengusap kepala Erin sambil tersenyum lebar. “Tapi kamu tenang aja…”

“Nggak biasanya aku kayak gini, Chok. Selama ini kalo kamu naik gunung, mana pernah aku larang kamu? Dulu-dulu aku nggak khawatir. Tapi entah kenapa sekarang perasaanku lain. Aku ngerasa nggak enak banget sama kepergian kamu kali ini. Batalin aja, Chok. Please… Lain kali aja kamu naik lagi…”

“Erin… Kamu tahu kan aku merencanakan perjalanan ini udah lama? Kamu udah ngebolehin aku pergi waktu pertama kali aku cerita. Sekarang kami udah siap berangkat. Nggak bisa dibatalin begitu aja…”

“Tapi Chok, please… untuk kali ini aja…”

“Erin, besok pagi kami sudah berangkat. Nggak bisa mundur lagi. Aku udah ngajuin cuti. Kamu tahu kan gimana susahnya ngajuin cuti di kantorku? Begitu juga anak-anak yang lain, pasti mereka juga minta cuti ke kantornya masing-masing. Gimana perasaan mereka kalau perjalanan yang udah direncanain dengan matang ini tiba-tiba harus dibatalin?”

Erin terus berusaha membujuk Choki untuk membatalkan niatnya. Meskipun ia tahu bujukannya akan sia-sia.

Rencana kepergian Choki ke Gunung Semeru bersama empat teman sekampusnya dulu sudah direncanakan sejak berbulan-bulan yang lalu. Sebelumnya Choki sempat mengeluh ia sedikit agak jenuh dengan pekerjaannya, dan ingin refreshing ke gunung. Sejak SMA dan kuliah, Choki adalah anggota tim pencinta alam yang sudah sering naik-turun gunung. Sampai ia lulus dan bekerja di sebuah perusahaan IT, sesekali ia masih melakukan hobinya itu meski tidak sesering dahulu.

“Kamu manja, deh. Pasti bukan khawatir sama aku sebenernya. Tapi karena khawatir bakal nggak ketemu aku selama seminggu. Ngaku deehh…” goda Choki. “Aku juga bakal kangen sama kamu kok, Rin…”

“Bukan itu, Chok. Kalo cuma nggak ketemu kamu selama seminggu doang sih nggak apa-apa. Tapi aku takut… nggak bakal ketemu kamu lagi… untuk sela…” Erin tidak meneruskan kalimatnya. Matanya tiba-tiba sedikit agak basah.

“Hey, hey, hey… Kamu jangan ngomong gitu. Aku pasti pulang. Aku janji…” Choki melihat titik air mata itu. Sedikit agak kaget ia melihat reaksi Erin yang tidak seperti biasanya. Ia memeluk Erin. “Aku akan pulang dengan selamat. Entah sudah berapa kali aku ke Semeru, dan selalu pulang dengan selamat. Kamu tahu itu kan?”

“Kamu takabur, Chok. Aku nggak suka dengernya.”

“Oke, oke… Aku kan cuma mau menghibur kamu, bahwa apapun yang kamu khawatirkan itu nggak sepatutnya dikhawatirkan. Kamu tenang aja. Doain aja kami pulang dengan selamat. Oke?”

Erin putus asa. Choki dan gunung tidak bisa dipisahkan. Gunung adalah cinta pertama Choki.

Keesokan harinya, Choki dan empat temannya benar-benar berangkat.

Sejak tiba di Semeru, Choki selalu mengirim SMS kepada Erin, untuk memberi laporan pandangan mata atau hanya sekedar berkata: “I wish you were here. It’s so beautiful. You gotta see this…” Dan setelah membaca SMS itu, Erin menitikkan air mata. Perasaan tidak enak itu semakin kuat menyerangnya.

Kini sudah lebih dari seminggu, Choki belum juga pulang. Sudah tiga hari lewat dari jadwal yang ditetapkan, mereka belum ada kabar. Choki dan kawan-kawan tidak bisa dihubungi. Tak satu pun ponsel mereka yang hidup. Semuanya mailbox. Batere mereka pasti habis. Tapi Choki selalu membawa batere cadangan untuk ponselnya. Seharusnya ia masih bisa dihubungi atau menghubungi dunia luar.

Erin menatap layar ponselnya, memperhatikan hari dan jam yang tertera di sana dengan perasaan cemas. Ini malam ke-dua belas tanpa kabar dari Choki. Ia menekan tombol redial untuk ke sekian kalinya. Dan untuk yang ke sekian kalinya juga, hanya mailbox yang menyahut panggilannya.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan area…

Perasaannya yang sejak tadi sudah tidak karuan, bertambah kacau. Jantungnya berdetak kencang dan hatinya mencelos. Setiap kali bayangan Choki melintas di benaknya, ia merasakan kekhawatiran yang luar biasa.

“Choki, di mana kamu?” batin Erin sambil memejamkan mata. Seakan ia sedang mencari dengan mata batinnya di mana keberadaan Choki dan teman-teman yang lain. Dan berdoa agar mereka bisa pulang ke Jakarta dengan selamat.

Erin tertidur sebentar namun tidak seberapa lama ia terbangun karena mendengar ketukan halus di jendela kamarnya. Ia menajamkan pendengarannya. Benar itu ketukan di jendela. Ditambah suara yang memanggil-manggil namanya dengan pelan. Diliriknya jam di dinding. Pukul setengah dua.

Ketukan halus di jendela dan suara berbisik itu masih terus memanggil.

“Choki?” Sontak Erin turun dari tempat tidurnya dan menuju ke jendela. “Choki?” bisiknya dalam hati sambil menyingkap sedikit tirai jendela itu. Ia mengintip ke luar. Di antara keremangan lampu teras samping rumah, ia melihat sosok yang ia kenal.

“Choki?” bisiknya sambil menyingkap lebih lebar tirai jendela, memastikan bahwa yang ia lihat adalah benar-benar Choki. Setelah ia dapat melihat bahwa sosok itu adalah Choki, Erin membuka jendelanya.

“Choki, kamu pulang…” pekiknya pelan kegirangan.

“Sshh… nanti yang lain bangun,” Choki menempelkan telunjuknya di bibir. Ia tersenyum. Erin nyaris melonjak kegirangan melihat Choki berdiri di depannya.

“Kamu mau masuk sebentar? Mau minum atau apa?” Erin berbisik.

“Nggak, makasih. Aku cuma mampir sebentar, hanya supaya kamu tahu aku udah pulang,” sahut Choki juga berbisik sambil tersenyum lebar. Tak sadar Erin menitikkan air mata bahagia.

“Kamu kenapa terlambat?”

“Kami tersesat. Dan ada beberapa masalah yang kami hadapi.”

“Hah? Tapi kalian baik-baik aja kan?”

“Nanti aku cerita. Aku pulang dulu, ya? Capek banget nih badan. Pegel-pegel…”

Erin berpaling dan melihat ke arah jam dinding. Jam dua  kurang lima belas menit. Ia kembali menatap Choki dengan mata yang berbinar. “Aku senang kamu pulang…”

Choki tersenyum. “Aku kan udah janji sama kamu. O,iya, hampir lupa. Ini buat kamu,” Choki membungkuk sebentar mencari sesuatu di dalam tasnya. Lalu ia menyerahkan sesuatu. Seikat bunga yang diikatkan pada sebuah besi kecil yang berbentuk hampir seperti segi empat tumpul dan mengecil di dua sudutnya.

“Ini carabiner, ring pengaman buat naik gunung. Dan ini adalah si bunga gunung, Eidelweis. Dua hal yang sangat berbeda. Yang satu kokoh, yang satu lembut. Yang satu ini selalu dibawa-bawa karena sangat penting diperlukan untuk keselamatan, sedangkan yang satu ini kadang terabaikan. Tapi … yang kokoh dan penting ini, tidak abadi, karena biar bagaimanapun nasib yang menentukan. Sedangkan Eidelweis yang lembut, ia bunga abadi. Kontradiktif, bukan? Kuikatkan dua benda berlawanan ini jadi satu, supaya saling melengkapi.”

Choki diam sejenak, menarik nafas sambil tersenyum, “Aku buatin ini buat kamu…” ia menyerahkan benda yang sedari tadi di tangannya itu ke tangan Erin, “Karena kedua benda ini selalu mengingatkan aku pada kamu. Kamu… adalah Eidelweis dan carabiner-ku.”

“Makasih…” Erin tersenyum dan suaranya parau. Ia menangis terharu. Dengan susah payah ia berusaha merangkul Choki yang berada di luar jendela. Memeluk sebisanya.

“Kamu dingin sekali, Chok…”

“Emang dingin, Rin. Makanya aku pulang sekarang, ya?”

“Ya sudah sana. Istirahat…”

“Kamu tutup dulu jendela kamu. Nanti masuk angin.”

“Oke…” Erin menurut. Ia menutup daun jendelanya. Dan dari kaca jendela ia melihat Choki berjalan menjauh. Ditutupnya tirai jendela begitu Choki menghilang di balik pagar.

*

 

Erin baru keluar dari ruang meeting dan berjalan di antara cubicle menuju mejanya ketika Alya memanggilnya.

“Rin, tadi ada telepon. Dari Echi. Katanya adeknya Choki. Elo diminta telepon balik.”

DEG! Tiba-tiba Erin merasakan sesuatu yang begitu kuat menghantam dadanya. Jantungnya seakan berhenti selama dua detik. Ia berusaha tenang. “Oke. Thanks, Al,” jawab Erin tersenyum. Ia segera ke mejanya dan mengangkat telepon.

Ia men-dial nomor telepon rumah Choki. Terdengar nada sambung dan beberapa detik kemudian diangkat. Suara perempuan yang ia kenal menyapanya di seberang sana. “Halo?”

“Halo… Echi? Tadi kamu telepon aku, ya? Sori… tadi aku lagi ada meeting dari pagi. Ada apa, Chi?” Erin dipenuhi rasa khawatir.

“Kak Erin… Bang Choki…” suara Echi pelan dan parau.

“Kenapa Choki?” Erin tidak sabar.

“Bang Choki… meninggal…”

“HAH??” Erin setengah berteriak. Tiba-tiba seluruh tubuhnya bergetar dan bulu kuduknya meremang. “Kapan?? Kenapa??”

“Dia… tersesat di gunung… kehabisan bekal… jatoh ke jurang…” kini suara Echi terbata-bata di antara isakan pelannya.

“Nggak mungkin!” Erin menggeleng keras. “Nggak mungkin dia tersesat di gunung. Semalam dia datang ke rumah aku!”

“Kak… tadi pagi ada yang telepon ke rumah, katanya dari Gunung Semeru. Ngasih tahu kalo Bang Choki ditemukan meninggal… Tadi pagi papa langsung ke sana pake pesawat pertama. Dan kita lagi nunggu jenazahnya dibawa ke rumah…”

Erin tidak mendengar lagi penjelasan Echi. Ia merasakan pening yang amat sangat. Ruangan seakan berputar cepat membuatnya limbung. Bayangan Choki tadi malam di rumahnya muncul dan hilang dengan cepat. Dan tiba-tiba semuanya jadi gelap.

Ia jatuh pingsan.

 

*

 

Gundukan tanah itu masih basah. Bunga-bunga kecil bertaburan di atasnya sebagian sudah menyatu dengan tanah. Erin berjongkok di pinggir pusara dan menabur bunga yang baru saja ia beli di gerbang pemakaman tadi. Disentuhnya nisan yang masih baru itu sambil merapal doa. Air matanya menetes perlahan.

“Sori ya, Chi… Aku masih suka nangis kalo inget dia…” ucapnya pelan kepada Echi yang juga berjongkok di sebelahnya.

“Nggak apa-apa, Kak. Wajar. Baru tiga hari, kan. Orang rumah juga masih sedih. Apalagi mama, masih suka nangis kalo inget Bang Choki…”

“Makanya aku gak cerita sama mama soal ‘kedatangan’ Choki ke rumahku. Takutnya nanti mama tambah sedih.”

Echi mengangguk. Dia sudah mendengar dari Erin cerita tentang ‘kedatangan’ Choki ke rumahnya malam itu. Lengkap dengan ‘oleh-oleh’ yang diberi Choki. Benda itu sempat disimpan di dalam laci meja, setidaknya menurut ingatan Erin. Namun keesokan harinya benda itu tidak ada di tempatnya. Sehari setelah pemakaman Choki, Erin mencarinya kembali sampai ke seluruh kamar tapi benda itu tetap tidak ada.

“Mungkin Kak Erin mimpi?” tanya Echi waktu pertama kali Erin bercerita kepadanya.

Erin mengangkat bahu. Sampai saat ini ia masih tidak mengerti bagaimana bisa terjadi. Dia tahu ceritanya sangat tidak masuk akal, tapi malam itu Choki sangat tampak nyata. Bahkan ia sempat memeluknya. Tapi menurut logika, hal itu tidak mungkin terjadi karena pada saat itu Choki berada di ratusan kilometer jaraknya dari rumah Erin.

Menurut penuturan penjaga hutan, Choki ditemukan sekitar pukul setengah dua malam. Masih dalam keadaan hidup namun kondisinya sangat lemah. Tubuhnya demam tinggi akibat hypothermia dan dehidrasi. Rupanya ia terpisah dari rombongan dan tersesat. Ketika turun hujan ia terpeleset dan jatuh ke sungai lalu terseret arus selama beberapa puluh meter sebelum akhirnya ia bisa menyelamatkan diri dengan berenang ke tepi. Dalam keadaan basah kuyup dan lapar ia berjalan mencari pertolongan. Namun ia sudah terlalu jauh tersesat. Dia juga kehilangan tas ransel dan semua perbekalannya.

Rombongannya mencari Choki dengan bantuan beberapa penjaga hutan, namun sia-sia. Pada malam ke-lima, tanpa diduga, Choki muncul dan ambruk di depan pos penjaga di kaki gunung. Mereka segera menolongnya. Namun tubuhnya terlalu lemah dan demamnya sangat tinggi. Akhirnya dia pun meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

“Jam setengah dua itu dia mendatangiku… Dia memberitahuku kalo dia selamat. Ketika ditemukan dia memang masih selamat. Masih hidup… walau dengan kondisi lemah…” Erin menitikkan air mata. Echi memeluk pundaknya.

Tak berapa lama ponsel Echi berdering.

“Dari rumah,” Echi membaca tulisan di layar ponselnya. Dan ia pun berbicara di telepon.

“Mereka menemukan ransel Bang Choki,” ujar Echi begitu ia menutup telepon. “Ayo kita pulang, Kak.”

 

“Tasnya ditemukan tersangkut di batu-batu sungai. Tadi mereka ke sini untuk mengembalikannya ke kita,” kata mama Choki sambil mengantar Erin ke kamar Choki. Echi mengikuti di belakang.

“Sekarang kami lagi bongkar isi tasnya. Semua barang yang ada di dalamnya basah. Termasuk buku catatan perjalanannya. Hampir semua tulisannya gak bisa dibaca karena terhapus air.”

Erin berdiri tegang di depan pintu kamar Choki. Bulu kuduknya meremang.

“Masuk aja, Rin. Kita beresin barangnya Choki sama-sama, ya? Mungkin kamu mau nyimpan sesuatu buat kenang-kenangan?” Mama Choki menggandeng Erin masuk. Erin merasakan detak jantungnya semakin cepat.

Di dalam kamar itu baju-baju Choki yang terlihat lembab dibentangkan di kursi, di sisi tempat tidur, dan di lantai. Sementara di sisi lain tergeletak alat-alat mendaki gunung. Erin bergetar melihat pemandangan itu semua. Bulu kuduknya kembali meremang. Ia merasa melihat bayangan Choki di sudut kamar sedang memandang mereka.

Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan dari sudut itu ke arah mama Choki yang masih mengeluarkan sisa barang dari dalam tas dan mulai membantunya. Isi tasnya tinggal sedikit. Ia merogoh-rogoh di kantung bagian depan tas. Jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan lembut secara bersamaan. Ditariknya benda itu secara perlahan.

Hampir copot jantung Erin ketika benda itu akhirnya tersembul keluar dari dalam tas. Tangan yang menggenggam benda itu bergetar hebat. Lagi-lagi bulu kuduknya meremang.

“Chi!” ia memanggil Echi dan menunjukkan benda itu.

Echi menghampirinya dan mengambil benda itu dari tangan Erin.  Ia memandang Erin dengan tatapan bingung. “Eidelweis? Carabiner? Ini yang Bang Choki kasih ke Kak Erin???”

Erin mengangguk lemah. Masih jelas dalam ingatannya sebentuk benda yang diberikan oleh Choki malam itu. Seikat Eidelweis yang lembut yang diikatkan pada carabiner yang kokoh dan dingin. Selama dua hari Erin mencarinya namun tidak ia temukan. Padahal ia yakin telah menerima benda itu dari Choki dan menyimpannya di dalam laci meja.

Dan sekarang benda itu telah ditemukan – di dalam tas Choki.

“Ada tulisannya nih…” Echi memutar-mutar benda itu, berusaha membaca tulisan yang digoreskan secara kasar pada permukaan carabiner. “Ini buat Kak Erin,” katanya sambil menyerahkan kembali benda itu.

Jantung Erin makin berdegub kencang menerimanya. Ia membaca tulisan yang ditunjukkan Echi.

 

TO ERIN, THE FLOWER & CARABINER IN MY HEART.

 

Air mata Erin pun mengalir.

 

 

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: