Waktu yang Hilang

Luna memandang wajah di depannya, di dalam cermin itu. Wajah yang merupakan pantulan dari wajahnya sendiri. Tapi entah mengapa dia merasa asing melihat dirinya. Terlebih dengan eye shadow dan maskara yang terlukis rapi di kelopak mata, juga lipstik berwarna cerah di bibirnya. Dia bahkan tidak ingat kapan ia memakai semua kosmetik itu di wajahnya.

Keheranan juga melandanya ketika ia mendapati pakaian yang ia kenakan. Tank top hitam berpotongan rendah sehingga memperlihatkan sebagian belahan dadanya, rok mini hitam yang memperlihatkan sebagian pinggul dan hampir seluruh kakinya, dan sepatu boot hitam yang berhak tinggi. Sejak kapan ia memakai benda itu semua? Milik siapa benda-benda yang sekarang ia pakai ini??

Kepalanya terasa pening dan berputar-putar memikirkan itu semua. Dia segera membuka keran air dan membasuh wajahnya beberapa kali. Riasan itu mulai hilang. Tapi dia baru menyadari bahwa kedua matanya berwarna coklat. Dia mengernyitkan kening, “bukankah mataku berwarna hitam?”

Belum hilang keheranan menyelimuti benaknya, tiba-tiba pintu di belakangnya terkuak. Luna terlonjak kaget. Seorang lelaki berwajah tampan masuk dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.

“Maura, aku menunggumu dari tadi. Kenapa lama sekali?? Kok masih berpakaian lengkap?”

Luna berkelit mengindarinya, “Siapa kamu?!” tanyanya galak dengan suara bergetar karena takut setengah mati.

“Maura, jangan bercanda kamu…” lelaki itu mengikuti dan terus berusaha memeluknya. Luna meronta.

“Maura? Aku bukan Maura! Aku Luna!” dia mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga. “Jangan mendekat!” ia berlari ke arah pintu.

Bitch! Kamu yang tadi merayuku dan mengajakku ke tempatmu. Kamu bilang ingin bercinta denganku. Tapi kenapa sekarang kamu malah nolak aku?!” lelaki itu mulai kesal.

Terkejut Luna mendengar ucapan lelaki di depannya itu. Dia menggeleng keras.

“Aku nggak kenal kamu. Maaf…” Luna mulai terhuyung. Kepalanya tiba-tiba sakit. “Tadi kamu panggil aku siapa? Maura? Namaku Luna. Bukan Maura. Mungkin kamu salah orang…”

“Nggak, Nona. Aku bersamamu sejak tadi. Sejak awal kamu masuk club, kamu menghampiriku, lalu kita kenalan. Kamu mulai merayuku. Lalu kamu ajak aku ke tempatmu.”

“Ha?” Luna benar-benar bingung dengan apa yang dikatakannya. Club? Kenalan? Merayu? Dia tidak pernah merasa melakukan itu.

“Lalu kamu bilang mau ke toilet sebentar. Aku tunggu di kamar. Tapi karena lama, aku susul kamu ke sini. Tapi tiba-tiba kamu bertingkah aneh. Maumu apa sih??”

Luna menggeleng keras. “Aku sama sekali nggak ingat…” Ia menekan-nekan kepalanya yang berdenyut hebat.

Lelaki itu kebingungan. “Hey, kamu kenapa?”

“Aku bukan Maura!” jawab Luna sambil menekan kepalanya lebih keras lagi.

“Jadi kamu siapa??”

“Aku Luna!”

“Perempuan gila!”

“Pergi kamu dari sini!”

“Aku memang mau pergi!” Lelaki itu berteriak kesal. Ia mengambil barang-barangnya yang berserakan di sekitar termpat tidur dan keluar sambil bersungut-sungut.

Luna menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Bingung dengan apa yang baru saja terjadi, dia berusaha mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelumnya. Dia sungguh tidak ingat telah melakukan apa yang lelaki tadi katakan. Bahkan dia tidak bisa membayangkan dirinya melakukan hal itu. Masuk ke club dan merayu lelaki tak dikenal, lalu mengajak lelaki itu ke tempatnya. Tidak mungkin!

Ke tempatnya??

Dia memandang ke sekelilingnya. Perasaan aneh kembali menjalar. “Ini tempat apa??!!” teriaknya panik.

 

Luna men-dial sebuah nomor telepon dari ponselnya. Setelah agak lama menunggu, barulah panggilannya dijawab.

“Halo? Luna? Kamu ke mana aja? Seharian aku coba telepon kamu tapi nggak bisa. HP kamu mati, ya?” suara di seberang sana langsung menyerocos.

“Dito… Something happened to meI’m scared… Bisa jemput aku, nggak??” suara Luna lirih.

“Memangnya kamu kenapa? Kamu di mana sekarang??”

“Aku nggak tahu. Tiba-tiba aku ada di kamar ini… Bersama seorang lelaki…”

“HAH??” Dito kaget dan panik, “Kamu ngapain?? Apa dia nyakitin kamu??”

“Nggak, dia udah pergi. Tapi aku takut, Dit…”

“Yaudah, yaudah… Sekarang kamu di mana? Aku jemput sekarang,” terdengar suara gemerincing di seberang sana. Tampaknya Dito langsung mengambil kunci mobilnya.

“Aku nggak tahu… Aku ada di sebuah gedung tinggi…” Luna melihat ke luar jendela. Di bawah sana terlihat jalanan yang sunyi dengan lampu redup di sisi-sisinya.  Lalu ia memandang ke sekeliling. “…Sepertinya ini apartemen… Nggak terlalu mewah. Tapi not bad…”

“Apa namanya?”

“Sebentar,” Luna bergerak ke arah meja dan membuka laci-lacinya. Ia menemukan sebuah petunjuk dari selembar kertas berlaminating. Dibacakannya tulisan yang tertera di kertas itu kepada Dito. Ia juga keluar sebentar untuk melihat nomor kamarnya.

“Lumayan jauh juga, ya? Aku usahain cepat sampai sana, deh. Kamu tunggu di situ. Kunci pintunya.”

“Dit, bawain aku jaket dan celana panjang…”

“Ha?”

“Entah baju siapa yang kupakai, tapi aku merasa aku setengah telanjang. Aku merasa jadi pelacur dengan pakaian ini.”

“Oke, oke… Aku bawain jaket dan celana jeans-nya adikku, ya? Kamu tunggu di sana. Tenang… aku akan segera datang…”

“Dit…”

“Ya?”

“Maaf ya, merepotkan… Sudah tengah malam begini…”

“Nggak apa-apa, Luna. Aku kan pacarmu. Melindungimu adalah kewajibanku. Nah, ada lagi yang kamu perlukan?”

“Udah itu aja. Thanks in advance. Hati-hati…”

 

*

 

Betapa leganya Luna ketika melihat Dito di depan pintu kamar. Cepat-cepat ia membuka pintu dan menyuruh Dito masuk. Ia langsung menceritakan kejadian yang baru saja ia alami; bagaimana ia tiba-tiba tersadar bahwa ia sedang berada di tempat yang asing, bersama orang asing, dan memakai pakaian yang bukan miliknya.

Dito menyerahkan tas plastik berisi jaket dan celana jeans panjang milik adik perempuannya kepada Luna. Sambil menunggu Luna berganti pakaian di toilet, ia mengelilingi kamar apartemen itu dan memeriksa setiap sudutnya, juga ke dalam laci dan lemari.

“Kamu ingat nggak, apa yang terakhir kamu lakukan sebelum berada di sini?” tanya Dito begitu Luna keluar dari toilet.

“Aku udah berusaha mengingat-ingat, tapi aku benar-benar lupa,” Luna terlihat amat bingung.

“Ayo Luna, ingatlah. Apa yang terakhir kamu ingat??” Dito mengajaknya duduk.

“Aku nggak ingat, Dito. Sepertinya aku tidur lalu terbangun sudah dalam keadaan seperti ini. Di sini.”

“Jadi yang terakhir kamu ingat itu… tidur?”

Luna berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba, “Aku mau pergi dari sini. Tempat ini membuatku takut…”

“Oke, kamu mau aku antar pulang?”

“Aku mau menjernihkan pikiranku. Tapi bukan di rumah.”

“Jadi kamu mau ke mana?”

“Entahlah. Yang penting keluar dari sini.”

Mereka pun segera meninggalkan kamar. Ketika sedang menunggu lift, mereka bertemu dengan seorang satpam. Mereka berusaha bersikap wajar agar tidak terlihat mencurigakan, namun satpam itu justru menyapa mereka.

“Malam, Mbak Maura…”

Mereka melirik ke sekeliling namun tidak ada siapapun di sekitar situ. Jelas satpam itu menegur Luna. Tapi mengapa satpam memanggilnya dg nama Maura?

“Malam, Pak…” Luna membalas sapaan itu dengan berusaha tersenyum. Kikuk. Dito merangkul pundak Luna dan masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka.

Ketika mereka tiba di lobi yang sepi, lagi-lagi Luna disapa dengan nama Maura oleh dua orang satpam yang berjaga di sana.

“Apa mungkin pemilik kamar itu seorang perempuan bernama Maura yang mirip sama kamu, ya?” Dito bertanya-tanya ketika mereka berjalan menuju tempat parkir mobil di belakang gedung apartemen kecil itu. “Tapi di mana dia? Kenapa kamu bisa berada di sana?”

Luna menggeleng dan mengangkat bahu dengan lemah. Ia benar-benar bingung.

 

*

 

Dito menyalakan pemantik api dan menghisap rokoknya dalam-dalam. Sambil menghembuskan asap putih dari mulutnya, ia duduk bersandar memandang ke sekeliling. Malam yang semakin larut mulai beranjak pagi. Kafe yang buka 24 jam ini terlihat sedikit agak sepi dengan hanya beberapa kursi dan sofa yang lebih banyak kosong daripada yang terisi. Namun musik yang mengalun di seluruh ruangan membuat suasana kafe terkesan masih hidup dan menggeliat semangat menemani kehidupan malam kota Jakarta.

Tiba-tiba ia terpaku dengan pemandangan di depannya. Tangan Luna mengambil bungkus rokok miliknya, mengambil satu batang dan menyelipkannya di antara bibir. Kemudian Luna menyalakan pemantik, menghisap rokok, dan menghembuskan asap dengan anggun.

“Sejak kapan kamu merokok?” tanya Dito agak kaget dengan aksi Luna. Dua tahun mereka bersama namun tidak pernah sekalipun ia melihat Luna merokok.

Dito tidak mengulangi pertanyaannya meski Luna tidak menjawab. Ia melihat sesuatu yang berbeda pada diri Luna. Gaya duduknya anggun dengan badan tegak dan bahu lurus. Dadanya yang agak membusung terlihat sedikit lebih besar dari biasanya. Caranya memegang rokok seperti perempuan yang biasa merokok. Ia tampak sangat menikmati rokoknya sehingga tidak sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.

“Luna?” panggil Dito dengan suara pelan.

Perempuan itu tidak menjawab. Malah meletakkan rokoknya ke pinggir asbak, mengangkat cangkir dan menyesap cappuccinonya perlahan. Setelah itu ia meletakkan cangkirnya kembali dan melanjutkan acara merokoknya.

“Mm… Maura?” Dito ragu.

Perempuan itu menoleh. Mata coklatnya menatap Dito tajam. Dito menelan ludah. “Maura??”

“Ya, ada apa, Dito?”

Dito kembali menelan ludah. Yang baru saja ia dengar itu bukan suara Luna.

 

*

 

Luna membuka mata dan mendapati dirinya berada di jok belakang mobil. Paranoid langsung menyergapnya. Ia terlonjak bangun dengan perasaan bingung campur takut, namun langsung bernapas lega begitu melihat Dito tidur duduk di jok depan. Langit pagi masih berwarna abu-abu. Pemandangan di sekelilingnya masih remang karena tertutup kabut.

“Dito… Dito…” Luna menjulurkan kepalanya ke depan dan mengguncang bahu Dito pelan.

Dito membuka matanya, “Hai… Selamat pagi…” sapanya sambil meluruskan bahu dan lehernya.

“Pagi… Kita di mana, Dit?”

“Di Puncak.”

“Ha???”

“Kamu yang mau ke sini.”

“Nggak. Perasaan aku nggak bilang mau ke Puncak.”

Dito tidak menyahut. Ia malah keluar dari mobil dan berjalan sedikit menjauh. Lalu ia mulai melakukan senam kecil untuk melemaskan tubuhnya. Luna memutuskan keluar dari mobil juga. Udara pagi yang sejuk dingin menyambutnya. Sinar matahari mulai muncul dan memperlihatkan pemandangan sekitar meski kabut masih menyelimuti. Rupanya mereka berada di atas bukit dengan pohon tinggi dan kebun teh di sekelilingnya. Mereka benar-benar berada di puncak! Luna menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

“Lun?” Dito menegur Luna yang berdiri di sampingnya. “Lun, ingat nggak semalam abis dari apartemen itu kita ke kafe?”

“Aku ingat kita mau ke kafe. Tapi sepertinya di perjalanan aku ketiduran. Ngantuk banget soalnya. Makanya aku kaget tadi bangun-bangun ada di sini. Sudah pagi pula…”

Dito menarik nafas, “Kamu nggak ingat kalau kita masuk kafe dan ngobrol berjam-jam?”

Luna menatap Dito dengan heran, “Masuk kafe? Ngobrol berjam-jam? Aku… nggak ingat…” ia merasakan lagi sakit kepala hebat yang sama dengan yang ia rasakan di kamar apartemen semalam.

“Kamu juga merokok. Dan juga jadi lebih pintar flirting.”

Luna menatap Dito lebih dalam, meminta penjelasan. Dito balas menatapnya dengan lembut sekaligus iba.

“Entahlah. Aku nggak tahu bagaimana menjelaskannya, Luna. Semalaman kita bersama-sama terus. Sejak kita keluar dari apartemen, aku terus pegang tanganmu sampai kita masuk mobil. Lalu dalam perjalanan ke kafe kamu ketiduran, aku nggak mau bangunin karena kamu kelihatan lelah sekali. Sesampainya di kafe, tanpa aku bangunin kamu terbangun sendiri. Kita sama-sama masuk ke dalam kafe dan memesan kopi…”

Luna menggeleng. Ia sama sekali tidak ingat adegan yang diceritakan Dito selain mereka keluar dari apartemen dan Dito terus memegang tangannya sampai masuk mobil. Yang ia ingat terakhir kali adalah rasa kantuk yang menyerangnya dan ia tertidur di kursi penumpang di samping Dito sementara mobil terus melaju.

“…Ketika kita sudah duduk di sofa, aku merokok seperti biasa. Aku kaget ketika kamu mengambil sebatang rokok dari bungkusnya, lalu kamupun mulai merokok juga. Lalu kita mulai mengobrol. Tapi aku merasa itu bukan kamu. Sepertinya kamu menjadi orang lain. Suara kamu pun berubah. Ketika aku memanggilnya dengan nama ‘Luna’ ia tidak menyahut. Tapi ketika aku memanggilnya ‘Maura’… dia menyahut.”

Tubuh Luna bergetar, “Kamu nggak lagi menakut-nakuti aku, kan?”

“Buat apa aku menakut-nakuti kamu?”

“Ini terlalu aneh, Dit…”

“Aku tahu. Aku juga merasakan keanehan itu. Mau aku lanjutkan?”

“Lanjutkan saja…”

“Seperti yang tadi aku bilang, kamu jadi lebih jago flirting dan agresif – kepadaku.”

“Apa yang aku lakukan?”

“Sudahlah, kamu nggak usah tahu,” Dito menolak untuk menceritakan masalah yang satu itu. “Kemudian kamu, eh maksudku Maura, mengajak ke puncak. Aku menurutinya. Lalu ia minta berhenti di tempat ini. Kamu tahu, di malam hari lampu-lampu yang berasal dari rumah penduduk dan vila-vila di bawah terlihat begitu indah dari atas sini.”

“Lalu apa yang terjadi?” hati Luna berdegup kencang. Perasaan tidak enak yang sedari tadi menyelimuti bertambah buruk.

“Dia mengajakku bercinta. Di jok belakang.”

“Lalu??”

“Aku nggak akan memanfaatkan keadaan itu, Luna. Meski jujur saja, aku sempat tergoda. Tapi aku sadar jika aku melakukan hal itu, berarti aku menyakitimu…”

Mata Luna berkaca-kaca, “Terima kasih, Dito…”

“Awalnya dia marah karena aku tolak. Tapi kemudian aku bisa menenangkannya, dengan memelukmu semalaman, membuat dirimu merasa nyaman dan hangat. Sehingga dia tertidur lagi.”

“Dan ketika bangun aku menjadi diriku lagi…”

“Ya begitulah…”

“Kalau begitu aku harus tetap terjaga. Jika aku tertidur, Maura akan mengambil alih lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”

 

*

 

Luna memandang wajah di depannya, di dalam cermin itu. Wajah yang merupakan pantulan dari wajahnya sendiri. Tapi entah mengapa dia merasa asing melihat dirinya. Kulit wajahnya pucat dan mata yang kuyu dikelilingi oleh lingkaran hitam terlihat suram.

Sudah hampir seminggu ia tidak tidur. Sejak Dito menceritakan soal Maura, Luna praktis tidak pernah ingin tidur. Dan sejak itu pula Maura tidak pernah datang lagi. Dan kejadian aneh yang membuatnya merasa jadi orang pelupa sedunia sudah tidak pernah terjadi lagi. Dito tidak setuju dengan cara seperti ini, ia menyuruh Luna pergi ke dokter. Tapi Luna tidak menggubrisnya.

“Kamu nggak akan bisa begini terus. Lambat laun kamu akan menyerah,” pantulan bibirnya di dalam cermin bergumam pelan, padahal ia tidak menggerakkannya. Luna memejamkan mata, berharap itu hanya halusinasi saja.

Beberapa menit kemudian Luna membuka mata, berharap halusinasinya sudah pergi. Namun di depannya bukanlah pantulan dirinya, melainkan pantulan orang lain. Seorang perempuan yang sebaya dengannya dan berpakaian minim serba hitam. Rambut lurusnya tergerai, bagian depannya hampir menutupi sebagian matanya yang ber-eye shadow hitam. Wajah perempuan itu sebenarnya cantik namun sedikit agak mengerikan dengan mata yang menyorot tajam dan senyum yang menyeringai.

Luna kembali memejamkan matanya rapat-rapat dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Halusinasi, pergilah… Halusinasi, pergilah…”  ia berbisik.

“Aku bukan halusinasimu, Luna. Kamu tahu aku benar-benar ada,” suara perempuan di dalam cermin itu terdengar samar. Sepertinya ia benar-benar ada di dalam sana hingga suaranya teredam.

“Halusinasi, pergilah… Halusinasi, pergilah…”

“Aku sudah lama berada di dalam dirimu, Luna. Sejak kecil kita selalu bersama. Apa kamu nggak ingat? Aku Maura, teman imajinasimu.”

“Aku pasti mimpi… Aku pasti mimpi… Aku ingin bangun…” Luna menepuk-nepuk wajahnya.

“Apa kau lupa padaku, Luna? Padahal sejak kecil kita selalu bermain berdua. Sejak orang tuamu bercerai dan kamu tinggal bersama ibu dan ayah tiri serta dua anak lelakinya yang lebih tua darimu. Berapa usiamu saat itu? Delapan tahun? Sembilan tahun?”

“Aku pasti mimpi… Aku pasti mimpi… Aku ingin bangun…”

“Dua puluh tahun yang lalu. Tapi kamu pasti masih ingat, Luna. Ketika di rumah tidak ada siapa-siapa, ketika kedua orang tuamu sedang bekerja, dua kakak tirimu mengajakmu masuk ke kamar mereka. Di sana kamu disuruh minum jus jeruk buatan mereka. Setelah meminum jus itu tiba-tiba kamu mengantuk sekali, dan mereka menyuruhmu tidur di ranjang mereka…”

“Tidak… tidak…” Luna bergetar. Ia memukul-mukul kepalanya. “Hentikan… hentikan…”

“Apa kamu tahu apa yang terjadi ketika kamu tidur? Mengapa begitu bangun tidur kau merasakan sakit di vagina dan sekitar selangkanganmu? Apa kamu tahu begitu kau tidur, mereka melucuti pakaianmu dan menidurimu secara bergantian?”

“Hentikan… hentikan…” Luna mulai menangis. Trauma masa kecil yang ia coba lupakan kembali menyerangnya. Setelah hari itu kakak-kakak tirinya membuatnya tidak sadar, keesokan harinya mereka tidak lagi memberinya jus. Namun mereka menguncinya dalam kamar dan mengajaknya main dokter-dokteran. Mereka berperan menjadi dokter dan perawat, sementara Luna adalah pasiennya. Setelah menyuruh Luna berbaring, pakaian Luna dilepas semuanya hingga tak ada sehelai benangpun di tubuh mungilnya. Kemudian salah satu dari mereka memegang tangannya sementara yang lain membuka celananya sendiri.

“Suntik dulu ya, adik kecil…” anak lelaki yang sudah remaja itu menghampiri Luna dengan sesuatu yang mengacung tegak di antara selangkangannya. Kemudian benda itu dimasukkan ke dalam tubuh Luna. Ia berteriak namun tangan kakaknya membekap mulutnya.

Saat-saat berikutnya adalah saat yang sangat menyakitkan. Mereka bergantian ‘menyuntiknya’ sementara yang lain memegang tangan dan membekap mulutnya. Setelah itu mereka memakaikan pakaian Luna kembali dan memberinya permen.

“Ini permen karena kamu sudah menjadi pasien yang baik. Tapi jangan bilang sama ibu dan ayah. Kalau tidak nanti kami suntik kamu pakai jarum suntik sungguhan.”

Luna kecil takut akan ancaman itu dan tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun. Sementara kakak-kakak tirinya hampir setiap hari mengajaknya main dokter-dokteran tanpa ia bisa menolaknya. Kalau pun ia menolak, mereka akan memberinya minum dan membuatnya tertidur. Dan setelah itu ia selalu bangun dengan rasa sakit di genitalnya. Tidak ada yang tidak lebih buruk dari cara lainnya. Ikut main dokter-dokteran atau tidak, semua berakhir dengan rasa sakit yang amat sangat.

Ada saatnya mereka membiarkan Luna sendiri di kamarnya tanpa diganggu. Pada saat itulah Luna menceritakan semua keluh kesah dan kesakitan itu pada Maura, teman imajinasinya. Ia menciptakan Maura karena ia tidak tahu harus bercerita kepada siapa sementara ia berada di bawah ancaman kakak-kakak tirinya yang cabul dan kejam.

Pada suatu hari, Luna kembali diajak main dokter-dokteran namun ia menolak. Seperti dugaannya, salah satu dari mereka membuatkannya jus jeruk dan menyuruhnya minum. Luna tahu apa yang akan terjadi jika ia meminumnya, maka ia menolaknya. Mereka mulai marah dan memaksa Luna untuk meminum jus itu. Salah satu dari mereka memegang kepala Luna dan mendorong gelas ke mulutnya agar cairan itu tertelan olehnya. Tiba-tiba tangan Luna bergerak cepat merampas gelas itu dan menghantamkannya ke pelipis kakaknya.

Seketika itu juga darah mengalir deras dari pelipis yang bocor dan terjadilah keributan. Terdengar teriakan kesakitan dan makian pada saat yang bersamaan. Luna lari ke kamarnya dan bersembunyi di dalam lemari. Entah berapa lama ia bersembunyi di sana, sampai ia mendengar suara ibunya di luar memanggil namanya. Ia memberanikan diri membuka pintu lemari dan keluar dari tempat gelap itu.

“Luna! Kenapa kamu lempar kakakmu dengan gelas?! Lihat tuh kepalanya bocor!” ibu menghardik dan mencubit lengannya. Tak peduli teriakan kesakitannya yang meminta ampun.

“Bukan aku, Bu! Bukan aku! Maura yang melakukannya…” isak Luna begitu ibu melepaskan cubitannya yang pedih, meninggalkan bekas kemerahan di lengan kecilnya.

“Maura? Siapa Maura? Kamu jangan bohong, ya? Jelas-jelas tadi cuma ada kalian bertiga. Ardi bilang dia melihat dengan jelas kamu melempar gelas itu ke Dody. Kenapa??”

Pada saat itulah akhirnya Luna berani menceritakan semuanya ke ibu. Mendengar penuturan Luna, ibu tertegun dan menangis. Kemudian ibu memeluknya dan meminta maaf berkali-kali.

Entah apa yang terjadi setelah itu karena situasi begitu kacau, terakhir ia ingat adalah akhirnya ibu bercerai dengan suami keduanya dan mengajaknya pindah rumah. Sejak itu ibu tidak pernah menikah lagi karena trauma dengan kejadian yang menimpa Luna. Demikian juga dengan Luna, ia seperti takut dengan lelaki. Meski lama kelamaan ia bisa beradaptasi dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki, baik teman, guru, atau orang di sekitarnya, namun tidak pernah ada yang bisa mendekati Luna karena ia sangat membentengi dirinya. Sampai akhirnya datanglah Dito, yang pada awalnya adalah teman baik, akhirnya bisa membuat Luna luluh dan kini menjadi kekasihnya.

“Kamu tidak ingat apa yang terjadi setelah kamu menceritakan kejadian itu kepada ibu?” tanya Maura masih dalam cermin. Luna kembali ke masa sekarang. Namun ia menganggap bahwa ia masih bermimpi.

Maura melanjutkan, “Itu karena kamu nggak sanggup menghadapinya, maka aku yang mengambil alih. Mereka mulai bertengkar. Ibu membelamu, ayah tirimu membela anaknya. Ibu menuntut agar peristiwa perkosaanmu dilaporkan ke polisi, namun ayah tirimu menolak. Ia bilang mau bertanggung jawab atas biaya rumah sakitmu asalkan putranya tidak dilaporkan. Tapi ibumu tetap bersikeras. Kalian menghadapi masalah rumit. Bolak balik rumah sakit, kantor polisi, dan pengadilan. Kedua kakakmu akhirnya dihukum penjara, tapi hukumannya masih terlalu ringan untuk perbuatan sejahat itu pada anak kecil. Ibu dan ayah tirimu jadi makin sering bertengkar. Begitu banyak pertengkaran di antara mereka sampai akhirnya mereka pun bercerai.”

“Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kamu mengambil alih?” Luna akhirnya memberanikan diri membuat kontak langsung dengan Maura. Ia bertanya sambil memegang cermin. Kedua tangan mereka bertemu.

“Karena kamu lemah, Luna. Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Akulah yang memukul kepala Dody dengan gelas dan membuat pelipisnya sobek. Seperti ia telah menyobek vaginamu. Tapi itu tidak sebanding. Amat sangat tidak sebanding!”

Kepala Luna berdenyut hebat. Ingatan akan peristiwa itu terulang kembali. Ia menangis.

“Kamu juga hampir bunuh diri karena lelah menghadapi proses pemeriksaan dan pengadilan yang panjang. Selalu ditanyai dan harus mengingat peristiwa itu berulang-ulang, membuatmu menangis terus. Kamu malu, takut, dan kalut. Selendang ibumu sudah melilit leher ketika akhirnya aku mengambil alih dan membuatmu tidur untuk jangka waktu yang cukup lama. Aku yang menghadapi itu semua.”

Luna menggeleng keras. Tangisnya makin deras.

“Setelah semuanya teratasi, ibumu sudah bercerai dan mengontrak rumah yang sekarang kau tempati ini, aku mundur dan kamu kembali ke tubuhmu. Kalian hidup dengan damai meski luka di hatimu tak dapat disembuhkan.”

“Aku… Aku sudah punya Dito. Kami saling mencintai. Kenapa kamu kembali?”

“Untuk menemanimu, Luna sayang. Sejak kematian ibumu sebulan yang lalu, kamu begitu depresi. Tak punya pegangan hidup. Untuk perempuan seusiamu, seharusnya kamu bisa lebih tegar dan mandiri. Kamu begitu lemah. Beruntung kau masih memiliki Dito. Dan aku, tentunya. Aku yang mengatur segalanya supaya kita bisa bertahan hidup.”

“Tapi kamu membuat kekacauan. Kamu membuatku hampir tidur dengan lelaki lain!”

“Libido, Luna! Aku adalah nafsu yang selalu kamu pendam. Dua begundal kecil itu membuatmu frigid, takut akan seks. Sementara di lain sisi, kamu juga punya libido tinggi. Itulah aku, sisi gelapmu. Aku adalah amarah dan dendam yang tertahan, rasa sedih yang kelewat batas, juga nafsu yang tertekan. Aku ingin keluar dan bersenang-senang, Luna!”

“Nggak, Maura. Kamu nggak bisa begitu. Kamu nggak nyata.”

“Setelah aku menolongmu, inikah balasanmu padaku??”

“Kamu memanipulasi aku!”

“Karena kamu lemah!”

“Jangan selalu bilang aku ini lemah.”

“Karena memang itulah kenyataanya.”

“Aku nggak lemah.”

“Buktikan!”

“Aku akan menyingkirkanmu, Maura.”

“Coba saja!”

“Aku akan menyingkirkanmu, Maura!!”

PRANG!!!

Luna membenturkan kepalanya ke cermin. Terdengar bunyi kaca pecah dan jatuh berhamburan ke lantai. Beberapa. Detik berikutnya tetesan darah mulai membasahi lantai. Luna ambruk dengan banyak pecahan kaca menancap di kepalanya. Darah segar mengalir melalui wajah dan menggenangi lantai di sekitarnya. Makin lama genangannya makin luas dan lantai semakin merah.

 

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: