Putri Tidur

Putri terbangun karena mendengar suara orang mengaji di kejauhan. Sebentar lagi subuh. Tanpa sadar ia mengumpat dalam hati. Bukan karena suara yang keluar dari toa mushola di belakang rumahnya itu, melainkan karena waktu.

Rasanya baru 5 menit yang lalu ia tertidur di depan laptop yang menyala, hanya untuk sekedar meluruskan punggung dan mengistirahatkan mata sejenak. Artikel yang sedang ia kerjakan belum juga selesai padahal deadline besok, tapi matanya sudah amat berat. Kantuk menggelantung di pelupuk mata, rasa pedih dan gatal menyelimuti bola matanya. Ia memutuskan untuk tidur sekitar 10-20 menit, lalu akan melanjutkan pekerjaan. Jam menunjukkan pukul 22.10. Masih belum terlalu larut. Ia mengira-ngira pekerjaannya akan selesai dalam waktu 2-3 jam setelah ia istirahat dan menyegarkan otaknya dengan tidur sebentar.

Namun ia tertidur selama berjam-jam dan baru bangun menjelang subuh. Ia merasa telah membuang banyak waktu. Segera ia bangun dan langsung berkutat dengan laptop sambil merutuki dirinya sendiri.

Akhir-akhir ini ia merasa terlalu cepat lelah dan cepat mengantuk. Ini di luar kebiasaannya. Sejak masih duduk di bangku sekolah ia sering tidur larut malam atau bahkan hampir pagi, karena asik di depan komputer bermain game atau menulis cerita. Masuk kuliah jurnalistik dan sambil bekerja di sebuah perusahaan media membuatnya semakin terbiasa mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan sampai pagi, dan langsung beraktivitas di siang hari dan malam setelahnya. Sehari-hari ia tidur hanya 2 sampai 4 jam saja, dan itu tidak pernah membuatnya mengantuk.

Tapi minggu-minggu belakangan ia jadi cepat mengantuk, bahkan di siang atau sore hari. Secangkir kopi tidak lagi mempan melawan kantuknya. Ia bisa tertidur di atas meja dalam posisi menelungkup begitu saja, atau tertidur di jok belakang taksi dalam perjalanan pulang. Tampaknya setan tidur sudah mulai menguasai tubuhnya. Ia bisa tidur kapan saja dalam jangka waktu yang cukup lama. Itu yang membuatnya geram, karena merasa tidur membuang waktu dan membuatnya jadi tidak produktif. Teman-teman menyarankan agar ia periksa ke dokter, mungkin darah rendah dan harus minum suplemen penambah darah. Tapi ia tidak pernah ke dokter, pun minum suplemen.

Artikel selesai di menit-menit terakhir menjelang ia harus berangkat ke kantor. Ia segera bersiap-siap, mandi dan berdandan secepatnya, menyambar kunci motor sambil menggendong tas laptopnya. Tidak ada waktu untuk menunggu taksi atau berjalan ke pangkalan ojek di depan kompleks rumah. Ia memutuskan untuk naik motor milik adiknya yang sedang libur kuliah, agar cepat sampai ke kantor.

**

Malam belum terlalu larut untuk kota yang nyaris tidak pernah tidur. Putri dan beberapa kolega sedang berkaraoke ketika tiba-tiba ia terserang kantuk yang amat sangat. Berkali-kali ia menampar-nampar pipinya agar terjaga, namun beberapa menit kemudian ia menguap lagi. Jam 10 lewat sedikit ia pamit pulang karena sudah tidak tahan lagi dengan kantuknya, disambut tertawa oleh teman-temannya.

“Elo ngantuk? Jam segini? Payah lo. Faktor U itu. Haha…” canda teman-temannya.

“Gila si Putri, lagi karaoke gini bisa-bisanya ngantuk,” imbuh yang lain.

“Gue bawa motor, bok.. Takut juga nih kalo ngantuk kayak begini bawa motor. Kalo naik taksi sih nggak apa-apa..” Putri tersenyum dengan mata beler. Cappuccino yang ia pesan dan sudah diminumnya sampai habis tidak bisa mengusir kantuknya. Dulu waktu usianya sekitar awal 20-an, pernah juga mengatakan hal yang hampir sama ke seorang kolega yang usianya menginjak kepala 3. Ketika itu kolega bercerita bahwa sejak akhir 20-an ia sudah tidak bisa lagi begadang karena jadi gampang mengantuk. Dan kini usianya sudah di akhir 20-an, ia terserang “penyakit” yang sama. Sial.

Kenapa sekarang ini setiap jam 10 malam aku sudah mengantuk, rutuknya dalam hati sambil mulai menggas motornya. Ia ingin segera sampai rumah dan terjun indah di kasurnya. Melaju di antara lalu lintas Jakarta yang masih ramai, ia berusaha konsentrasi sambil menahan kantuknya. Udara sejuk malam hari membuat tubuhnya kembali segar. Namun beberapa menit kemudian ia kembali merasa kantuk menggelantung di pelupuk matanya. Rasa pedih dan gatal juga menyelimuti bola mata. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir setan tidur yang mulai menguasai tubuhnya.

**

Putri terbangun karena mendengar suara orang mengaji di kejauhan. Namun suara orang mengaji itu semakin lama semakin jelas terdengar, seperti dekat dan mengelilinginya. Bukan hanya satu orang yang mengaji, tapi banyak orang. Terdengar juga suara-suara lain; suara isak tangis tertahan di antara suara orang yang mengobrol. Wangi kamper juga menyerbak menusuk hidungnya. Namun sekelilingnya gelap, ia tidak bisa melihat apa-apa meski ia telah membuka matanya. Wajahnya seperti diselubungi oleh kain penutup.

Beberapa saat kemudian kain penutup itu terbuka. Seseorang membuka kain itu dengan kedua tangan dengan perlahan-lahan. Ia pun dapat melihat wajah ayahnya. Dan wajah beberapa orang, sebagian ia kenal adalah tetangganya. Bacaan ayat suci semakin jelas terdengar, begitu juga dengan suara isak tangis dan suara-suara lain di sekililingnya. Lamat-lamat ia mendengar suara ibunya sedang berbicara. Suaranya parau dan sesekali terdengar isakannya.

“Kejadiannya gimana, Bu?” tanya suara seorang perempuan, nyaris berbisik.

“Kata orang yang liat sih.. motornya ada yang nyalip, dia ga bisa menghindar, oleng ke kanan, trus jatuh, terseret terus ke kanan, sampe jalur busway. Pas banget busway lewat…” terbata-bata ibunya bercerita, dan di akhir kalimatnya tangis kembali pecah.

Putri terkesiap. Ia baru sadar ia sedang berada di ruangan tengah, terbujur kaku. Ia tidak ingat ada motor yang menyalipnya. Ia juga tidak merasa sakit.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: