Kencan Pertama (remake)

 

Semuanya terasa begitu sempurna. Kafe yang cozy dengan pencahayaan minim, live music yang menyanyikan lagu-lagu romantis lawas – suara vokalisnya keren! – , sofa yg empuk dengan bantal-bantal nyaman, cheesecake lezat, cappuccino nikmat, dan lelaki tampan di sebelahku yang nyaris tidak pernah melepaskan genggaman tangannya ke tanganku. Aku merasa benar-benar nyaman.

Malam ini adalah kencan pertama kami sebagai pasangan kekasih. Setelah seorang teman memperkenalkan kami berdua dan kemudian merasa tertarik satu sama lain, kami pun melakukan pendekatan lebih lanjut. Hanya butuh 2 minggu masa pendekatan, setelah itu kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Dan malam ini boleh dibilang adalah malam peresmiannya.

Awalnya kami agak canggung. Sejak tadi kami hanya duduk bersandar saling bergenggaman tangan menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh band, sambil sesekali menyesap minuman kami masing-masing, atau menikmati sesendok demi sesendok cheesecake di hadapan kami. Selama hampir setengah jam kami hanya diam menikmati suasana, nyaris tidak berbicara satu sama lain. Padahal dua minggu terakhir ini kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, baik ketika sedang bertemu langsung atau melalui telepon, sms, dan chat messenger.

“Kok tiba-tiba aku jadi bisu begini, ya?” canda Wibi, berusaha memulai percakapan.

Aku tertawa kecil, “Sama nih, aku juga.”

“Sudah lama sekali aku nggak ngerasa senyaman ini…” Wibi menatap mataku, tajam. Aku merasa grogi ditatap seperti itu. Kupalingkan wajahku ke arah band yang sedang memainkan lagu Overjoyed-nya Stevie Wonder.

And maybe too, if you would believe

You too might be

Overjoyed, over loved, over me

“Hey,” Wibi memanggilku pelan, membuatku menoleh dan kembali mendapatinya masih menatapku tajam. Aku memberanikan diri untuk membalas tatapannya yang seakan ingin memakanku bulat-bulat.

Posisi duduk kami amat dekat, sampai2 aku dapat mencium aroma tubuhnya. Entah parfum apa yang ia pakai, yang jelas begitu menggugah selera. Kini kami saling berpandangan untuk beberapa saat. Mata kami menghujam satu sama lain. Kemudian bahasa tubuh berbicara lebih lugas daripada bahasa verbal. Chemistry is in the air.

Wajahnya mendekat ke arahku perlahan. Aku dapat merasakan nafasnya menggelitik hidungku. Hmmm… wangi kopi. Aku menyukainya.

Ia semakin mendekat, pelan, lalu berhenti sesaat, menunggu reaksiku. Giliran wajahku yang mendekat ke arahnya. Dengan sengaja aku berhenti dan menghembuskan nafas ringan ke wajahnya, menebar aroma cappuccino yang tadi aku minum, membiarkan ia menikmati wanginya melalui nafasku.

Wajahnya mendekatiku sekali lagi dalam gerakan lambat. Kini ujung bibir kami saling bersentuhan. Dengan perlahan dan lembut, ia membuka mulutnya lebih lebar.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Seketika aku merasa tidak nyaman, pikiranku gelisah. Diam-diam aku menggerakkan kedua tanganku ke arah depan seakan menyuruhnya berhenti, sambil merapal mantra di dalam hati.

Seketika Wibi berhenti, dengan posisi terakhirnya. Aku tersenyum melihatnya. Dia sungguh terlihat menggemaskan. Aku mundur dari posisi dudukku dan melihat ke sekeliling.

Suasana kafe berubah sepi. Tidak ada suara orang berbicara dan suara musik tidak lagi terdengar. Para pemain musik dan vokalisnya masih dalam posisi bermain alat musiknya dan bernyanyi di atas panggung, hanya saja tubuh mereka tidak bergerak sama sekali. Begitu juga tamu-tamu yang lain dan pelayan-pelayannya. Semua berhenti pada posisi terakhir mereka. Orang-orang yang berjalan di antara barisan kursi, tiga orang lelaki berdasi yang tengah bersulang, seorang perempuan yang sedang menggeser kursinya mundur, bahkan wine yang sedang dituang oleh pelayan di salah satu meja pun terlihat bagai kristal berwarna merah yang berdiri tegak dari mulut botol sampai ke gelas. Semua diam di tempat dengan berbagai pose kegiatan, tidak bergerak dan tidak bersuara. Aku seperti di tengah2 museum patung lilin.

Semua berhenti di tempat.

Aku menyeringai sambil berdiri dari tempat dudukku dan kemudian berjalan ke toilet. Di sana ada seorang wanita sedang mencuci tangannya. Namun sama seperti orang-orang di luar, dia pun tidak bergerak. Demikian juga air dari kran, membeku seperti es.

Aku berjalan santai ke arah westafel.

Di depan kaca aku membuka mulut dan memeriksa sesuatu di deretan gigi gerahamku. Seperti yang kuduga, ada sesuatu yang tersangkut di situ. Kucungkil benda mungil itu dari sela-sela gigi. Tak lama kemudian aku berhasil mengambilnya.

Kuperhatikan bentuknya. Ah, ternyata hanya serpihan kuku. Kubuang serpihan itu ke tempat sampah.

Sore hari sebelum Wibi menjemputku, aku kelaparan. Kukeluarkan toples dari freezer yang berukuran besar, membuka tutupnya dan mencium aromanya. Perutku semakin bergemuruh. Biasanya aku akan langsung melahap isi toples itu bulat-bulat, namun kali ini aku memutuskan untuk memakan sebagian saja, karena tak ingin merusak selera makan malamku nanti bersama Wibi. Kuambil pisau untuk memotong bagian tangannya, bagian yang paling aku suka.

Tidak seperti biasanya, janin yang ini lebih besar, sudah berbentuk bayi. Di tangannya pun sudah tumbuh kuku-kuku halus. Tampaknya janin ini adalah janin dari pembuangan rumah sakit, karena aku tidak tahu persis berapa usianya. Biasanya aku mengambil janin yang berusia di bawah 3 bulan, kurampas dari kandungan ibunya yang sudah kuincar. Selain itu aku juga mengambil janin dari pembuangan rumah sakit yang melakukan praktek aborsi atau tempat-tempat pembuangan bayi yang tak diinginkan lainnya. Untuk mengatasi rasa laparku, aku menyimpan beberapa janin di freezer agar tetap segar. Masing-masing janin kuletakkan di dalam toples.

Aku sedang menikmati potongan tangan mungil itu ketika bel pintu berbunyi. Wibi sudah datang. Aku langsung melahap jari-jari yang menjadi potongan terakhir. Karena buru-buru, aku hanya sempat berkumur dengan cairan pembersih mulut saja dan langsung menemui Wibi di ruang tamu. Lalu kami pun pergi berkencan.

Namun di tengah perjalanan, lidahku menangkap benda halus yang agak tajam di sela-sela gigi gerahamku. Serpihan kuku. Begitu Wibi ingin menciumku, aku teringat akan serpihan itu dan ingin segera membuangnya. Aku ingin meninggalkan kesan yang sempurna di kencan pertama kami, tanpa serpihan kuku secuilpun!

Aku memeriksa mulutku sekali lagi. Sudah bersih. Tapi masih belum puas, aku pun menyikat gigi. Kran yang kupegang bisa mengalirkan air seperti biasa, sementara kran di westafel sebelah masih membeku. Setelah selesai sikat gigi dan yakin bahwa tidak ada lagi sisa kuku atau tulang jari halus di sela-sela gigiku, aku keluar dari toilet, kembali ke tempat dudukku.

Posisi semua orang masih sama seperti terakhir kutinggalkan. Wibi masih dengan posisinya yang siap mencium. Aku duduk di tempatku semula, mengatur posisi seakan aku tidak pernah bergerak. Lalu aku menggerakkan tanganku lagi di udara sambil merapal mantra.

Suara denting piring dan sendok kembali terdengar. Juga suara langkah kaki pelayan dan obrolan tamu di meja masing-masing. Di meja sebelah, pelayan menuang wine, dan cairan merah mengalir dari botol ke gelas. Bersamaan dengan musik yang kembali berbunyi. Vokalis kembali bernyanyi, meneruskan lagu Overjoyed yang tadi sempat terhenti.

And though you don’t believe that they do

They do come true

For did my dreams

Come true when I looked at you

Dan wajah Wibi, lebih tepatnya bibirnya, mulai menekan bibirku…

Kemudian kami pun saling memagut. Pelan dan lembut.

Beberapa saat kemudian, Wibi berhenti sebentar. Membelai rambutku yang jatuh di kening sambil berbisik, “Nafas kamu wangi sekali…”

Aku tersenyum. Menyeringai.

And maybe with a chance you will find

You too like I

Overjoyed, over loved, over you, over you

***

Jakarta, Oktober 2012

(versi awal Sept 2006)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: