Dutch Hotel (1)

Kami berjalan mengikuti pelayan menuju kamar yang kami pesan sambil menikmati dekorasi di sepanjang koridor yang bergaya Eropa. Bentuk bangunan dan semua perabotan hingga pakaian pelayan di hotel ini membuat kami merasa masuk ke dalam mesin waktu dan diajak wisata ke masa lalu di sebuah negara di Eropa. Selain beberapa  lukisan dan patung ala Renaissance serta interior yang mewah bernuansa kuno, beberapa teks sejarah hotel ini juga dipajang di dinding lobi.

Menurut teks tersebut, hotel ini dibangun tahun 1901 oleh keluarga Belanda yang rindu akan kampung halamannya, sehingga mereka membuat hotel bergaya Eropa agar mereka dan sesama orang Eropa lain yang tinggal di Indonesia merasa seperti di rumah mereka sendiri. Selain beberapa kali pemugaran dan berganti nama karena berganti pemilik, hotel ini juga menjadi saksi segala peristiwa yang terjadi selama Perang Dunia II serta  peristiwa penting yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan. Atas dasar itu pemilik baru yang merupakan keturunan pendiri hotel membangun kembali hotel ini dengan membuat suasana yang mirip dengan awal berdirinya hotel sebagai salah satu bentuk promosi. Nama hotel pun dikembalikan menjadi nama aslinya; Dutch Hotel.

Tidak dapat dipungkiri memang cara itu berhasil. Selain sebagai pembentukan image hotel mewah dan bersejarah, suasana Eropa zaman dahulu kala dengan segala atributnya membuat para tamu hotel dapat merasakan keunikan tersendiri. Seperti yang telah kusebut di atas, hotel ini bagai mesin waktu yang mengajak para tamu berwisata ke masa lalu dengan semua bayangan peristiwa yang terjadi saat itu.

Kami tiba di kamar yang dituju, salah satu suite room yang paling mewah di hotel ini. Kamar yang luas bergaya Victorian, membuat kami merasa seperti tidak sedang berada di Indonesia, tepatnya di Surabaya. Setelah pelayan memasukkan koper-koper ke dalam kamar dan meninggalkan kamar, aku langsung memeluk pinggang Riana, istriku yang baru kunikahi kemarin.

“Gimana kamarnya, Sayang? Suka?”

“Suka sih. Tapi apa ini nggak terlalu berlebihan, Sayang?” tanyanya ragu sambil memandang sekeliling. “Terlalu mewah. Aku nggak nyangka akan semewah ini.”

“Buat kamu nggak ada yang terlalu berlebihan. Kamu pantas dapat apapun yang terbaik. Sekarang kamu adalah ratuku. Seorang ratu harus mendapatkan kemewahan ini semua sebagai kado pernikahan. Seperti kesepakatan kita, kamu pilih hotelnya, aku pilih kamarnya,” aku tersenyum lalu mengecup bibirnya. “Tapi maaf aku nggak bisa ngajak kamu ke Eropa sungguhan.”

Riana tertawa. Menginap di Dutch Hotel memang idenya. Waktu kami berdiskusi soal tempat bulan madu, aku mengusulkan Bali. Semua orang tahu dan setuju kalau Bali itu indah, eksotis, sangat cocok untuk bulan madu. Tapi tidak dengan Riana. Ia ingin sesuatu yang beda.

“Aku ingin ke Eropa.”

Aku mengernyitkan kening, “Serius?”

“Tapi bukan Eropa sungguhan. Cuma nuansanya aja yang Eropa. Lebih unik lagi, Eropa kuno. Sampai pelayannya semua berpakaian ala Eropa awal abad 20. Keren, kan?”

“Wah, keren. Tematis. Di mana itu, Sayang?”

“Di Surabaya.”

“Serius??”

Ia mengangguk. Kami pun mencari info lebih lanjut tentang Dutch Hotel. Benar saja, banyak yang merekomendasikan karena hotel ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Diam-diam aku memesan kamar paling mewah untuk memberi kejutan bagi mempelaiku.

“Ini kamar yang paling bernuansa Eropa dibanding kamar yang lain. Kita seperti benar-benar ada di Eropa, kan?” aku menggodanya dan mengecupnya sekali lagi.

Riana membalas kecupanku dan membisikkan “terima kasih” sambil jemarinya mengelus belakang telingaku. Sel-sel darahku bergetar halus. Kuangkat tubuhnya dan membopongnya ke tempat tidur. Begitu kurebahkan dia di kasur, kami pun langsung bercumbu. Tak peduli koper-koper yang masih bergeletakan di lantai dan matahari yang masih bersinar terang di luar jendela.

Sebagai pengantin baru, kami lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, bersarang di tempat tidur yang nyaman. Rencana makan malam di luar hotel untuk menikmati suasana kota Surabaya pun batal karena kami terlalu malas beranjak dari kamar. Akhirnya kami memesan makanan dari room service dan makan sambil menikmati suasana malam dari jendela kamar saja. Tapi aku lebih suka menikmati pemandangan lain di dalam kamar; wajah istriku yang sedang makan dengan lahap. Aktivitas yang kami lakukan sepanjang hari ini memang melelahkan dan membuat lapar.

Sadar dirinya sedang diperhatikan, Riana menghentikan makannya, menoleh ke arahku, “Kok nggak dimakan? Kamu nggak lapar?”

“Lapar banget,” jawabku tersenyum, namun tak juga menyentuh sirloin steak yang disajikan indah di atas piringku. Biasanya makanan itu begitu menggugah selera. Namun bagiku Riana lebih indah dan menggugah selera dari makanan apapun sekarang ini.

“Ya makan dong, Sayang… Jangan ngeliatin aku terus. Aku gak bikin kenyang,” ia tersenyum grogi sambil tangannya merengkuh rahangku dan menolehkan wajahku ke arah piring. Aku memegang tangannya dan kembali menatapnya.

“Kamu makananku. Saat ini aku lapar ingin santap kamu…” aku berbisik, menciumi punggung tangannya.

“Tapi kamu harus punya tenaga untuk menyantapku. Nah sekarang, ayo makan, biar ada tenaga,” ia nyengir. Menggemaskan.

“Iya juga, ya.. Oke deh, aku makan nih,” akhirnya sirloin steak itu pun berpindah ke perutku. Tidak sampai 5 menit, steak kuhabiskan sampai piringnya licin tandas.

Riana tertawa, “Nggak lapar tapi makannya geragas gitu. Kamu nggak kunyah, ya? Cepet banget abisnya,” ia menggodaku. Makanannya sendiri belum juga habis.

“Iya biar cepet selesai dan bisa segera makan makanan utama,” kataku sambil menatap tajam matanya.

Riana tertawa lagi. Kemudian ia menyodorkan piringnya ke arahku. Tanda ia sudah kekenyangan dan memintaku untuk menghabiskan makanannya. Padahal ia baru makan sedikit.

“Nggak mau. Kamu harus habiskan makananmu. Supaya ada tenaga. Malam ini kita lembur sampai pagi. Kamu harus kuat!” aku pura-pura galak.

“Tapi aku udah kenyang banget, Sayang. Kalau dipaksa makan terus nanti malah sakit perut,” wajahnya memelas sambil ia mengusap-usap perutnya. Kalau sudah begitu, akulah yang ‘bertugas’ untuk menghabiskan makanannya.

Karena makan terlalu banyak akibatnya aku menjadi kekenyangan dan terserang rasa kantuk yang amat berat. Setelah makan, kami merangkak ke atas tempat tidur dan menonton televisi sambil berbaring. Riana yang bersandar di bahuku terus menerus menguap menahan kantuk dan tak berapa lama ia pun tertidur. Aku membiarkannya tidur di pelukanku sambil terus mencium wangi tubuh dan rambutnya yang menenangkan. Beberapa saat kemudian aku pun ikut tertidur.

Entah sudah berapa lama kami tertidur dan entah jam berapa aku terbangun. Riana sudah tidak tidur di dadaku lagi. Ia juga tidak ada di sampingku. Kulihat lampu kamar mandi menyala dan terdengar suara air mengalir di dalam sana. Aku bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.

“Sayang?” aku membuka pintu kamar mandi dan melihatnya sedang berkumur setelah menggosok gigi.

“Aku tadi lupa habis makan belum sikat gigi,” ujarnya sambil mengelap mulut.

Aku menghampirinya dan berdiri di belakangnya, menghadap cermin di wastafel. Kupeluk pinggangnya dan kuciumi lehernya dari belakang.

“Jam berapa ini? Kenapa kamu nggak tidur?”

“Jam setengah tiga. Aku tadi terbangun dan ingat belum sikat gigi. Mulutku bau naga,” jawabnya tersenyum.

“Aku nggak keberatan mencium naga,” aku membalikkan tubuhnya menghadapku dan mulai mencium bibirnya.

“Kamu juga belum sikat gigi.”

Well, semoga kamu nggak keberatan dicium naga,” aku menciumnya bertubi-tubi.

Ia tertawa sebentar dan membalas ciumanku, “Untung naganya ganteng.”

Aku tersenyum menyeringai dan kembali menghujaninya dengan ciuman. Rasa kantuk sudah hilang sama sekali, energi juga sudah kembali. Aku begitu bersemangat hingga mengajak Riana bercinta di bathtub saat itu juga. Ia menyambutnya dengan antusias. Kemudian kami pun bercinta di dalam bathtub dengan dihujani shower air hangat. Sungguh momen yang sangat sempurna, sesuai dengan salah satu dari fantasiku.

Kami baru saja menyelesaikan ronde pertama ketika samar-samar aku seperti mendengar suara berisik di luar kamar mandi. Aku terdiam dan memasang telingaku.

“Kenapa, Babe?”

Aku memberi kode agar Riana jangan bersuara agar kubisa lebih menajamkan pendengaranku. Suasana sepi, seperti seharusnya – karena memang tidak ada siapa-siapa di kamar ini selain kami. Namun entah mengapa aku merasa curiga akan suasana sepi ini. Aku yakin tadi aku mendengar suara-suara di luar kamar mandi, yang berarti di dalam kamar tidur kami.

“Kamu dengar itu, Babe?” aku berbisik pada Riana yang memancarkan wajah keheranan. “Seperti ada suara di luar…”

“Mungkin suara orang mabuk yang baru keluar dari bar yang ga bisa masuk ke kamarnya karena terkunci dari luar?” Riana berteori acuh tak acuh.

“Bukan suara di luar kamar. Tapi di luar kamar mandi. Di kamar kita…”

“Kamu jangan bercanda,” wajah Riana menegang. Ia mematikan shower, ikut pasang telinga.

Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Seperti langkah kaki dan beberapa orang sedang berbicara dan membentak-bentak, persis di sebelah kamar mandi. Di kamar kami. Aku dan Riana sama-sama tegang. Bagaimana bisa ada orang masuk ke kamar kami??

“Sayang, jangan keluar,” Riana berbisik menahanku yang beranjak dari bathtub. Wajahnya ketakutan.

“Ada orang di kamar kita. Harus kita tegur.”

“Jangan. Aku takut. Kunci saja pintunya. Besok baru kita laporkan ke manajemen hotel.”

“Kalau rampok, bagaimana kalau mereka ambil barang-barang kita?”

“Peduli setan. Kalau mereka bawa senjata terus ngelukain kamu, gimana?”

Aku terdiam sebentar. Benar juga. Kalau ternyata mereka perampok bersenjata, aku tidak bisa membayangkan jika mereka melukaiku hingga aku tak bisa melindungi Riana. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Jika di luar itu benar-benar perampok, biarlah mereka mengambil semua asal kami selamat. Besok kami akan memeriksa barang-barang kami dan melapor pada pihak manajemen hotel.

Dengan cepat namun tanpa suara kami memakai baju kami kembali. Kusuruh Riana diam di tempat tersembunyi sementara aku menuju pintu dan menguncinya pelan-pelan. Dari balik pintu kamar mandi aku bisa mendengar lebih jelas. Suara kaki melangkah, beberapa orang berbicara, ada yang membentak-bentak, ada juga yang merintih. Kemudian suara gedebak gedebuk seperti sedang ada perkelahian dan orang yang berteriak-teriak. Selain itu juga terdengar suara riuh rendah keramaian di kejauhan, di luar kamar dan di luar hotel. Seketika suasana mendadak ramai di luar sana.

Ramai? Di jam 3 pagi?

Aku terus menajamkan pendengaranku sambil bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi di luar. Suara bentakan dan rintihan di luar semakin intens terdengar. Juga suara meja kursi yang bergeser dengan kasar, dan barang yang berjatuhan. Bulu kudukku meremang, jantungku berdetak amat cepat.  Sejurus kemudian terdengar suara yang lebih memekakkan telinga.

DOR!

Seseorang menembakkan senjata. Dan seseorang lainnya berteriak kesakitan, disusul suara gedebug sebuah benda besar atau seseorang jatuh ke lantai.

Aku semakin kecut. Tanpa suara aku bergegas menghampiri Riana yang tengah menutup telinganya dan gemetar ketakutan. Kulindungi ia dengan tubuhku agar jangan sampai terlihat. Kami berpelukan sangat erat sambil berdoa memohon perlindungan Tuhan. Tak sedetikpun aku berkedip memandang ke arah pintu, melihat kalau-kalau gagang pintu diputar dari luar. Aku harus melindungi istriku.

Perlahan-lahan suara riuh rendah itu menghilang. Suara gaduh langkah kaki di luar pun terdengar menjauh. Tidak ada suara yang terdengar lagi sama sekali, suasana kembali sepi. Namun kami tetap meringkuk di sudut kamar mandi, berpelukan dan ketakutan.

Setelah agak lama suara-suara itu hilang, Riana tetap tak mengizinkan aku memeriksa keadaan dan tak ingin keluar dari kamar mandi. Kami kembali duduk di dalam bathtub yang sudah kering , kali ini dengan pakaian lengkap, berusaha menenangkan diri. Hingga akhirnya ia tertidur di pelukanku, aku tetap berjaga-jaga.

Hingga pagi tiba, setelah sinar matahari terlihat mengintip dari lubang angin, kami keluar dari bathtub sambil berpegangan tangan erat. Wajah Riana masih terlihat amat tegang, sementara aku berusaha tenang. Kuputar kunci pintu perlahan dan membuka pintu dengan pelan.

Suasana hangat kamar yang mewah menyambut kami begitu keluar dari kamar mandi yang lembab. Semua terlihat normal, tidak ada yang berubah sedikitpun. Kondisi barang masih sama seperti keadaan terakhir kami tinggalkan, tidak ada yang bergeser satu inchi pun. Padahal beberapa jam yang lalu sepertinya kamar ini dibuat porak poranda. Suara langkah kaki yang kasar, kursi yang terbalik, barang-barang yang jatuh, terdengar begitu nyata. Bahkan suara tembakan dan seseorang jatuh ke lantai, begitu jelas terdengar. Namun sekarang tidak ada bekasnya sama sekali. Seperti tidak pernah ada kejadian ribut-ribut semalam. Tidak ada kursi yang bergeser atau terbalik, barang yang jatuh, bahkan tidak ada mayat korban penembakan dan darahnya. Semua terlihat normal.

“Mungkin sudah dibereskan oleh mereka supaya nggak ada bukti?” Riana memandang sekeliling. Ia memeriksa barang-barang kami, terutama barang berharga. Tidak ada yang hilang. Semua masih utuh berada di tempatnya.

(bersambung)

Advertisements

5 Responses to “Dutch Hotel (1)”

  1. Supaya lebih menegangkan, mungkin “pertaruhannya” mesti ditingkatkan lagi. Sejak awal, pembaca udah bisa menebak bahwa inti cerita ini adalah “hantu zaman belanda” atau semacamnya. Akibatnya, adegan mendengar suara di kamar mandi itu jadi nggak bikin penasaran lagi. Tapi tergantung dari bagian selanjutnya sih. Kalau di bagian selanjutnya penulis bisa mementahkan semua dugaan pembaca dan menampilkan sesutau yang luar biasa, cerita ini bisa menjadi bagus dan selamat dari jebakan ke-klise-an. 🙂

  2. setuju banget tuh sama pendapat di atas, dugaanku pas baca gitu, hantu zaman belanda, tp kalo salah tebak, ceritanya jadi seru.

  3. wah, sip2.. thanks masukannya. akan dipertimbangkan. sebenernya memang idenya dari situ dan bagian itu emang gampang ditebak. tapi bukan itu cerita sebenernya. ending-nya nanti sama sekali ga berhubungan, kok 😉 errr.. semoga ini bukan spoiler 😛

  4. Apa hanya aku yang dengan polos berpikiran kalau suara yang “tokoh aku dan istri” dengar hanya suara adegan tv ya :3 unsur comedy :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: