Pengagum Rahasia

 
Andini berjalan menuju kubikelnya dengan perasaan was-was, berharap tidak menemukan sesuatu yang aneh lagi seperti kemarin-kemarin. Beberapa hari terakhir ini setiap pagi ia menemukan benda-benda yang bukan miliknya di atas meja. Pertama kali ia menemukan boneka beruang kecil seukuran dua kali ibu jari. Ia pikir boneka itu milik Fania, yang hobi menyimpan beberapa boneka kecil di kubikelnya. Tapi ketika ia menyerahkan boneka itu pada Fania, gadis itu mengatakan kalau boneka itu bukan miliknya. Ia pun bertanya pada Tanti yang duduk di kubikel sebelahnya, apakah ia tahu siapa yang ada di kubikelnya sebelum ia datang. Tanti, dan beberapa orang di sekitarnya yang ia tanyai, tak satupun tahu soal boneka beruang kecil itu ataupun siapa pemiliknya. Akhirnya ia meletakkan boneka itu di meja kecil di samping sofa dekat televisi. Biarlah pemiliknya yang mengambil sendiri nanti, pikirnya. Namun sampai sore hari mereka beranjak pulang, boneka itu tetap berada di sana.
 
Keesokan harinya, sambil berjalan menuju kubikelnya Andini melirik ke meja kecil di samping sofa tempat kemarin ia meletakkan boneka yang ia temukan. Boneka itu tak ada di sana, berarti sudah diambil pemiliknya, pikirnya. Tapi begitu ia duduk di kubikelnya dan menyalakan komputer, matanya tertumbuk pada benda sebesar dua kali ibu jari di depan monitornya. Boneka beruang itu, kembali duduk manis di atas mejanya. Siapa yang meletakkannya di sini?? Andini bergidik. Ia memungut boneka kecil itu dengan tissue dan melemparnya ke sofa.
 
Hari berikutnya boneka kecil itu kembali ia temukan di atas mejanya, di atas tumpukan foto berukuran kartu nama. Ada sekitar dua belas lembar foto bergambar pasangan muda. Foto-foto pre-wedding. Entah siapa saja yang ada di foto itu, tidak ada yang dikenal Andini. Begitu juga Tanti, Fania, dan semua orang yang ada di ruangan itu, tak satupun tahu siapa yang ada di dalam foto, siapa yang meletakkan benda-benda itu di meja Andini, dan siapa pemilik boneka beruang kecil. Tak ada satu pun yang tahu atau melihat seseorang meletakkannya di meja Andini.
 


Barang-barang itu kembali Andini letakkan di meja kecil di samping sofa. Kali ini ia menyertakan selembar kertas dengan tulisan besar-besar di atasnya: BAGI PEMILIK BARANG-BARANG INI, SILAKAN DIAMBIL. JANGAN DITARO LAGI DI MEJA ORANG LAIN. TERIMA KASIH.
 
Keesokan harinya, barang-barang itu tidak ada lagi di sana, begitu juga dengan kertas pengumumannya. Meja kecil di samping sofa itu sudah kosong. Andini bernapas lega. Ia melangkah ringan menuju kubikelnya. Namun langkahnya terhenti, jantungnya pun nyaris berhenti, begitu melihat sekuntum bunga mawar merah tergeletak di atas keyboard-nya.
 
Berita pun tersebar di seantero kantor; Andini si anak baru, punya pengagum rahasia. Tidak ada yang tahu siapa, si pengagum rahasia tak pernah meninggalkan jejak kecuali barang-barang yang memang ditinggalkannya untuk Andini. Tidak ada yang bertingkah mencurigakan. Dan tidak juga ada yang mengaku ketika semua lelaki di kantor itu diinterogasi oleh Andini dan beberapa perempuan lain yang berniat membantu.
 
Andini tidak pernah menyimpan bunga itu. Ia membuangnya ke tempat sampah. Entah kenapa, bukan perasaan senang yang ia rasakan, tapi malah merasa ngeri, takut, dan terintimidasi. Ia merasa seseorang sedang mengawasi gerak-geriknya.
 
Bunga-bunga mulai muncul di hari-hari berikutnya. Mulai dari bunga mawar, lili, sampai kamboja. Andini tak tahan lagi, hatinya selalu tak tenang, takut, membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ia mengajukan pindah kubikel kepada atasannya. Ia tak ingin berada di kubikel itu lagi. Atasan mengizinkannya pindah ke kubikel yang masih kosong. Ia juga memasang CCTV, karena ia mulai khawatir dengan kondisi Andini dan pegawai yang lain.
 
Hari ini Andini mulai pindah kubikel. Ia memindahkan semua barangnya ke kubikel lain, membongkar semua isi meja dan lacinya. Ketika tangannya merogoh ke bagian dalam laci yang lebih jauh untuk mengeluarkan barang-barang, tangannya menangkap sebuah kotak kecil. Ia mengeluarkan kotak itu dan mengamatinya. Sebuah kotak berwarna merah maroon, rasanya ia tidak punya kotak seperti ini. Dibukanya kotak itu dan seketika sekujur tubuhnya merinding, jantungnya berdegub kencang. Sebuah cincin tersembul di bagian dalam kotak yang terlapis kain beludru hitam. Spontan ia memanggil Tanti yang berada di dekatnya untuk melihat benda yang ia temukan itu. Kantor kembali heboh.
 
Semua mata menuju ke layar monitor yang menampilkan video rekaman CCTV semalam. Ruangan tampak gelap, tak ada aktivitas sama sekali. Sesekali video dipercepat untuk mempersingkat waktu, namun tidak ada tanda-tanda aktivitas apapun yang terekam kamera. Hingga jam di layar menunjukkan pukul 7 pagi dan hari mulai terang, seseorang berpakaian seragam kebersihan datang dan mulai melakukan pekerjaannya membersihkan ruangan. Tidak ada yang aneh dengan aktivitasnya itu, semua berjalan normal. Suara-suara kecewa mulai terdengar, mungkin karena berharap akan melihat sesuatu di CCTV, misalnya seseorang yang menyelinap atau penampakan hantu. Tapi semua itu tidak ada.
 
Dengan perasaan gamang Andini kembali membereskan barangnya, mengangkutnya dari kubikel lama ke kubikel baru. Sebentar kemudian semua barangnya sudah berpindah, dan ia mulai menempati kubikel barunya. Kubikel lamanya kini sudah kosong. Hanya tersisa kotak berwarna merah maroon yang berisi cincin, yang kembali diletakkan di dalam laci. Tak ada yang berminat menyimpannya.
 
*
 
Di kubikelnya, diam-diam Bagas bersyukur Andini pindah dari kubikel itu. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompetnya. Dibelainya foto perempuan itu dengan penuh perasaan, sambil sesekali melihat ke arah kubikel Andini yang sudah kosong. Kubikel yang dulu pernah ditempati oleh perempuan pujaan hatinya, Ayu. Tak ada yang tahu Bagas begitu mengagumi Ayu dan selalu memperhatikannya dari balik kubikelnya. Tak ada yang tahu kalau selama ini mereka berkomunikasi lewat email dan layanan messenger, ternyata saling mengagumi. Tak ada yang tahu kalau di luar kantor mereka sering berkencan dan Bagas sering memberi Ayu hadiah. Tak ada yang tahu bahwa di suatu hari yang cerah, Bagas membawa bunga dan cincin tunangan untuk diserahkan pada Ayu di depan teman-teman kantor, untuk mengumumkan hubungan mereka. Tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ayu pada hari itu. Ayu tidak pernah muncul di kantor, padahal dari rumah ia pamit berangkat ke kantor. Tak ada yang tahu kenapa ponsel Ayu tak bisa dihubungi dan sama sekali tak ada kabar tentangnya hingga berhari-hari kemudian, dan berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan, sampai setahun lamanya. Semua orang terpukul dengan hilangnya Ayu, tapi tak ada yang tahu kalau Bagas yakin suatu hari nanti Ayu akan kembali, pulang ke rumahnya, ke pelukannya, dan ke kubikelnya.
 
Dan jika suatu hari nanti Ayu kembali, kubikelnya harus tetap dalam keadaan seperti sedia kala, dengan hadiah-hadiah pemberian Bagas di atas mejanya, dan cincin tunangan di lacinya.
 
***
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: